Dibalik Serangan Bunuh Diri Jepang

Sebuah Yokosuka D4Y3 “Judy” yang diterbangkan oleh Letnan Yoshiro Yamaguchi melakukan Kamikaze terhadap USS Essex

Tahun 1944, Jepang dan Sekutu masih bertempur untuk memperebutkan kendali atas Pasifik. Berbagai serangan dilancarkan oleh kedua pihak dan ditahun itu juga merupakan tahun kekalahan bagi Jepang, banyak dari wilayah jajahan Jepang berhasil diserang dan direbut kembali oleh Sekutu.

Dalam keputusasaan, Jepang mengambil suatu langkah ekstrim dalam menghadapi kekuatan laut milik Sekutu. Langkah ini kelak akan dikenal sebagai Kamikaze.

Pada dasarnya, Kamikaze adalah suatu unit tempur yang merupakan bagian dari Japanese Special Attack Units yang terdiri dari para penerbang terlatih yang menerbangkan pesawat berisi bom , torpedo atau bahan peledak lainnya secara langsung menuju ke kapal-kapal perang milik Sekutu.

Tujuan utama kamikaze yaitu menenggelamkan dan menghancurkan sebanyak mungkin kapal perang Sekutu sehingga melemahkan kekuatan laut mereka dan mempermudah armada laut Jepang dalam mendapatkan lagi kendali atas Perairan Pasifik.

Asal Nama Kamikaze

Kamikaze dalam aksara Kanji

Kamikaze atau 神風 (dalam Kanji) memiliki arti “divine wind” atau “angin dewa” (kata kami berarti “dewa” atau “kekuatan ilahi” , dan kata kaze berarti “angin”).

Kedua kata ini berasal dari kata Makurakotoba yang digunakan dalam Puisi Waka (seni puisi Jepang) dan digunakan pertama kali untuk menyebut nama angin yang menghancurkan armada Kubilai Khan saat hendak menginvasi daratan utama Jepang pada tahun 1274.

Pada awalnya, penggunaan nama kamikaze hanyalah sebatas penyebutan informal bagi semua unit bunuh diri Jepang khususnya dari unit udara Jepang.

Namun adanya perbedaan penyebutan bahasa dan banyaknya media Jepang yang menggunakan kata ini membuat nama kamikaze akhirnya diterima sebagai kata formal dalam menyebutkan unit bunuh diri Jepang.

Awal Mula Penggunaan Taktik Kamikaze

Laksamana Muda Masafumi Arima

Jauh sebelum adanya taktik kamikaze, para pilot akan secara sengaja menabrakkan pesawatnya ke suatu target dengan tujuan menyebabkan kerusakan sebanyak mungkin. Hal ini dilakukkan ketika pesawat yang mereka terbangkan sudah dalam kondisi rusak atau menghindari resiko tertangkap oleh musuh. Berawal dari prinsip itulah Jepang akhirnya membuat dan menyusun serangan kamikaze ini.

Pada tanggal 15 Juni 1944, seorang perwira dari Markas Tateyama di Tokyo bernama Kapten Motoharu Okamaru mengadakan suatu penyelidikan tentang hal dan mekanisme terkait taktik kamikaze ini. Beberapa sumber mengatakan bahwa penyelidikan inilah yang menjadi dasar pertama dalam terciptanya kamikaze.

Beberapa bulan setelahnya, tepatnya pada tanggal 15 Oktober 1944, seorang laksamana bernama Masafumi Arima melakukan serangan yang mungkin dapat dikatakan sebagai serangan kamikaze pertama. Ia dan para pilot lainnya dengan kekuatan 100 pesawat Yokosuka D4Y “Judy” melakukan serangan kamikaze terhadap kapal induk USS Franklin di dekat Teluk Leyte.

Wakil Laksamana Takijirō Ōnishi

Beberapa hari setelahnya, seorang wakil laksamana bernama Takijirō Ōnishi dengan dibantu oleh Komandan Asaichi Tamai membentuk satuan unit pertama kamikaze. Unit ini merupakan unit resmi pertama yang terdaftar dalam catatan militer Jepang.

Unit ini sendiri dinamai sebagai 1st Kamikaze Special Attack Group (第一神風特別攻撃隊, Dai 1 Kamikaze Tokubetsu Kōgekitai) yang dikomandani oleh Letnan Yukio Seki dan terbagi dalam empat sub-unit.

Keempat sub-unit tersebut diberi nama : Unit Shikishima , Unit Yamato , Unit Yamazakura dan Unit Asahi. Keempat nama tersebut diambil dari sebuah puisi karya Motoori Norinaga. Nama tersebut dipilih karena menunjukkan semangat bangsa Jepang sekaligus untuk memperkuat moral dan semangat juang para pilot kamikaze.

Shikishima no
Yamato-gokoro o
Hito towaba
Asahi ni niou
Yamazakura-bana

Motoori Norinaga

Tak lama setelahnya, mulai banyak bermunculan unit-unit kamikaze baru. Pada awal tahun 1945, setidaknya ada sekitar 20 unit kamikaze yang siap berkorban demi negara mereka. Selain itu,taktik ini menjadi taktik yang umum dipakai oleh Jepang dalam fase akhir perang Pasifik.

Sejarah Serangan-Serangan Kamikaze

Serangan kamikaze secara terencana dan dalam skala besar terjadi pertama kali saat Pertempuran Samar yang masih termasuk kedalam bagian dari Pertempuran Teluk Leyte yang lebih besar.

USS St.Lo meledak setelah terkena serangan kamikaze

Kamikaze digunakan didalam pertempuran itu dengan tujuan mencegah gerak maju pasukan Sekutu ke Filipina dan menyebabkan kerusakan pada kapal-kapal Sekutu. Dalam serangan ini, Sekutu masih belum menaruh banyak perhatian pada taktik ini dan alhasil banyak kapal mereka menjadi korban. Salah satunya yaitu USS St.Lo yang harus tenggelam setelah dihantam pesawat kamikaze Jepang.

Di bulan-bulan selanjutnya, intensitas serangan kamikaze semakin meningkat dan puncaknya terjadi pada bulan April hingga Juni 1945.

Pada tanggal 6 April 1945, Sekutu melancarkan serangan ke Pulau Okinawa dan disaat bersamaan Jepang melancarkan sebuah operasi bernama Operation Kikusui ( Kikusui sakusen). Operasi itu merupakan serangan kamikaze terbesar milik Jepang,

Selama operasi itu berlangsung, banyak dari kapal-kapal Sekutu menjadi korban keganasan kamikaze. Serangan ini tak pandang bulu mulai dari kapal kargo hingga kapal tempur milik Sekutu dijadikan sasaran oleh para pilot kamikaze. Beberapa kapal mengalami kerusakan berat dan bahkan tenggelam akibat serangan ini.

HMS Formidable terbakar setelah terkena kamikaze

HMS Formidable dan USS Laffey merupakan sedikit dari saksi bisu keganasan kamikaze. Kapal induk HMS Formidable dihantam oleh pesawat Mitsubishi A6M “Zero” dan akibat serangan itu membuatnya rusak dan terbakat hebat. Sedangkan kapal perusak USS Laffey terkena hingga enam serangan kamikaze berturut-turut namun ajaibnya kapal tersebut tidak tenggelam dan akhirnya mendapat julukan ” The Ship That Would Not Die” atau “Kapal yang Tak akan Pernah Mati”.

Perekrutan dan Pelatihan

Foto para pilot Kamikaze

Semua pilot yang direkrut oleh Jepang merupakan sukarelawan yang berasal dari golongan pemuda Jepang. Uniknya, walaupun kamikaze sendiri merupakan misi bunuh diri, banyak dari para pemuda bersukarela menjadi bagian dari unit tersebut.

Hal itu menunjukkan bahwa walaupun Jepang sudah dalam ambang kekalahan perang namun semangat juang mereka masih sangat tinggi. Mereka rela mati demi melindungi negara mereka dan juga seluruh keluarganya yang tinggal didalamnya.

Setelah direkrut, para sukarelawan ini akan menghadapi banyak latihan yang keras. Latihan yang dijalani oleh mereka meliputi berbagai latihan fisik yang keras dan bahkan terbilang brutal serta berbagai latihan spiritual dalam menyiapkan mental mereka ketika bertugas nanti.

Selain itu, mereka akan akan diberikan sebuah buku manual atau instruksi terkait hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan dipersiapkan dalam melakukan serangan kamikaze. Buku ini juga menjelaskan dengan sangat rinci kepada pilot dalam melakukan serangan kamikaze ini.

Biasanya para pilot diminta mengenai bagian kapal yang spesifik seperti bagian dek dan anjungan. Hal itu bertujuan agar kerusakan yang ditimbulkan dapat maksimal. Selain itu, saat melakukan serangan para pilot dilarang untuk memejamkan matanya dan harus berteriak “hissatsu” (必殺) yang dapat diartikan sebagai “tenggelam tanpa gagal” atau “mati”.

When you eliminate all thoughts about life and death, you will be able to totally disregard your earthly life. This will also enable you to concentrate your attention on eradicating the enemy with unwavering determination, meanwhile reinforcing your excellence in flight skills.”

Kutipan dari Kamikaze Pilot Manual

Pesawat-Pesawat dalam Kamikaze

Selama kampanye kamikaze berlangsung, Jepang banyak mengubah pesawat tempur dan pesawat pengebom mereka menjadi pesawat kamikaze.

Biasanya alat-alat seperti radio dan senjata dilepas dari badan pesawat untuk mengurangi beban dan memperbanyak kapasitas bom yang bisa mereka bawa dalam penyerangan. Selain itu, kapasitas tabung bahan bakar biasanya akan ditambah supaya kerusakan yang ditimbulkan saat pesawat meledak menjadi maksimal.

Pada fase awal kamikaze, pesawat seperti Mitsubishi A6M “Zero” dan Yokosuka D4Y “Suisei” banyak diubah menjadi pesawat kamikaze. Alasan dipilihnya kedua pesawat ini karena saat itu jumlahnya cukup banyak dan kemampuan terbangnya masih cukup bagus dibandingkan pesawat lainnya. Dalam misi kamikaze, pesawat A6M “Zero” biasanya akan membawa bom seberat 250 kg, sedangkan untuk D4Y “Suisei” akan membawa lebih banyak bom yang beratnya mencapai 800 kg.

Barulah pada tahun 1945, Jepang secara besar-besaran mengubah dan memodifikasi banyak dari pesawat-pesawat mereka menjadi bom bunuh diri. Tercatat pesawat seperti Nakajima Ki-47 “Hayabusa”, B7A “Ryusei”, dan Nakajima B6N “Tenzan” pernah diubah oleh mereka menjadi pesawat kamikaze. Selain itu, Jepang juga pernah mengubah dan memodifikasi pesawat bermesin ganda seperti Nakajima J1N1 “Gekko”, Kawasaki Ki-45 “Toryu” dan Mitsubishi Ki-67 “Hiryuu”.

Selain melakukan modifikasi, Jepang pun mengambil langkah lebih jauh lagi dengan mendesain pesawat kamikaze yang mampu membawa lebih banyak bom dan juga lebih cepat dibandingkan pesawat sebelumnya.

Dari semua rancangan yang dibuat oleh Jepang, rancangan pesawat Yokosuka MXY-7 Ohka merupakan salah satu rancangan yang paling sukses. Pesawat ini mampu membawa hulu ledak seberat 1.200 kg dan memiliki kecepatan hingga 648 km/jam. Biasanya pesawat ini akan diluncurkan dari pesawat yang lebih besar seperti P1Y “Ginga” , Nakajima G8N “Renzan”, dan Mitsubishi G4M “Hamaki”.

Selain Ohka, ada beberapa pesawat lainnya yang direncanakan dipakai sebagai pesawat khusus kamikaze seperti Kawanishi Baika, Nakajima J9Y Kikka, Ki-115 Tsurugi, dan Mizuno Shinryu. Namun semua pesawat tersebut tak dapat digunakan karena Jepang sudah terlebih dahulu menyerah kepada Sekutu.

Ritual dan Seremoni

Seremoni sebelum melakukan kamikaze

Sebelum melakukan serangan, pilot kamikaze akan menjalani serangkaian seremoni dan ritual. Hal itu dilakukan sebagai penghormatan terakhir bagi mereka yang akan pergi melakukan misi bunuh diri ini.

Salah satu ritual yang harus dijalani adalah para pilot harus mengenakan sebuah seragam khusus dan biasanya mereka juga mengenakan hachimaki (ikat kepala khas Jepang) dan juga senninbari (sabuk seribu jahitan).

Sesaat sebelum melakukan penerbangan, para pilot juga akan menjalani sebuah seremoni. Mereka akan berkumpul dan berbaris lalu para atasan akan menyambut dan memberikan sebuah pidato singkat berisi rasa terima kasih dan juga semangat kepada para pilot.

Lalu setelah itu, para pilot ini akan diberikan secangkir sake (minuman keras Jepang) dan mereka juga akan memberikan Guntō ( pedang seremoni Jepang) atau Katana ( pedang khas Jepang) kepada atasan mereka. Penyerahan pedang ini merupakan tanda bahwa mereka telah selesai dengan tugas mereka sebagai prajurit.

Setelah seremoni selesai, para pilot akan memasuki pesawat mereka masing-masing dan disaat yang bersamaan mereka juga akan berdoa untuk keluarga mereka serta akan membacakan sebuah puisi kematian setelahnya. Sebagai penghormatan terakhir, mereka juga diberikan dekorasi militer berupa medali. Selain itu, beberapa dari mereka akan menyerahkan sebuah surat wasiat yang diberikan kepada atasan mereka lalu oleh atasan mereka akan dikirimkan ke keluarga pilot yang bersangkutan.

Gadis SMA Chiran sedang melambaikan ranting pohon bunga sakura kepada para pilot

Disaat melakukan penerbangan, para gadis SMA Jepang akan melambaikan ranting pohon bunga sakura kepada para pilot sebagai penggambaran rasa terima kasih dan penghormatan karena telah rela berkorban demi bangsa Jepang.

Selain ritual diatas, beberapa pilot juga menjalankan ritual lain dengan cara mereka sendiri. Beberapa pilot kamikaze akan terbang menuju Gunung Kaimon di Kyushu lalu mereka akan memberikan hormat dan mengucapkan selamat tinggal bagi negaranya. Selain itu, beberapa dari para pilot ada yang menjatuhkan bunga sakura saat mereka terbang dalam misi terakhir mereka.

Pro dan Kontra Taktik Kamikaze

Kemunculan taktik ini sempat menimbulkan perdebatan diantara para perwira senior Jepang. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa jika ingin memenangkan perang harus dilakukan yang namanya pengorbanan diri dan kamikaze menjadi salah satu cara dalam berkorban.

Namun, beberapa perwira lain tak setuju dengan pendapat tersebut. Para perwira yang kontra dengan kamikaze berpendapat bahwa taktik ini merupakan hal yang sia-sia dan tak berkeperimanusiaan. Mereka berpendapat sedemikian rupa karena tak tega melihat banyak dari para pemuda Jepang yang seharusnya memiliki potensi militer yang baik harus disia-siakan dengan cara yang cenderung tak manusiawi.

Banyak kritik mulai bermunculan terkait kamikaze setelah Perang Dunia 2 usai. Salah satu kritik berbunyi bahwa pemerintah Jepang dan para nasionalis saat itu melebih-lebihkan kamikaze ini dengan berpropaganda bahwa siapapun yang ikut kedalam unit tersebut merupakan seorang “dewa” dan pengorbanan mereka akan membuat alur perang berubah. Namun, pada akhirnya semua propaganda tersebut hanyalah omong kosong belaka dimana Jepang tetap kalah dalam perang walupun sudah banyak mengorbankan pilot mereka dalam kamikaze.

Terlepas dari banyaknya pro dan kontra, kamikaze masih menjadi salah satu taktik yang ikonik sampai saat ini. Keganasan dan pro-kontra dibaliknya yang menjadikan kamikaze ini menjadi taktik yang ikonik.

Sumber : Berasal dari https://en.wikipedia.org/wiki/Kamikaze dan beberapa situs lain serta arsip militer Jepang yang dilakukan perubahan dan alih fungsi bahasa.

Rangga Wijaya

History Enthusiasm and Hobbyist

Kembali ke atas