Haji Di Era Kolonial Belanda

Pada masa kesultanan Islam di Nusantara. Haji hanya dilakukan oleh utusan kerajaan atau pedagang yang transit dari Nusantara ke jazirah Arab atau sebaliknya. Orang yang berhaji dianggap sakral bagi masyarakat setempat karena dianggap telah mumpuni dalam hal keilmuan terutama ilmu agama.

Banyak ulama dan pendakwah lokal yang diberangkatkan oleh kerajaan sebagai bagian dari kerjasama bilateral, baik dalam hal pendidikan maupun perdagangan dan pertahanan.

Namun semua berubah ketika negara api … Eh, maksudnya negara-negara Eropa (terutama Belanda) datang ke Nusantara. Keberadaan haji di mata orang-orang Eropa dianggap ancaman nyata bagi berlangsungnya monopoli perdagangan dan pengaruh kekuasaan.

Sejak abad ke 16, kedatangan dan kepergian jamaah haji jadi sorotan utama mereka menurut pendapat M. Shaleh Putuhena dalam Historigrafi Haji Indonesia. “Mereka bukan jemaah haji yang sengaja berangkat dari Nusantara untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka adalah pedagang, utusan sultan, dan pelayar yang berlabuh di Jedah dan berkesempatan untuk berkunjung ke Mekah,” tulisnya.

Haji dianggap sebagai utusan resmi kerajaan, selain transfer ilmu pengetahuan juga bagian dari rantai perdagangan rempah-rempah dan komoditas lainnya. Bila mereka masuk maupun keluar Nusantara akan jadi ancaman di kemudian hari.

Terbukti dengan getolnya perlawanan mereka dalam mengajak masyarakat, baik di masa Mataram Islam maupun sesudahnya. Di Jawa sisi barat maupun sisi timur, pada tahun 1503 jadi tahun yang menegangkan sekaligus titik awal pengakuan jamaah haji Indonesia yang kala itu disebut sebagai jamaah India timur kecil.

Setidaknya itu yang dicatat oleh seorang pelancong Roma lainnya bernama Ludovico di Varthema mengetahui keberadaan orang Nusantara yang berhaji di Makkah.

Mereka yang menjalankan ibadah haji bukanlah orang sembarang di masa itu (kerajaan Islam Nusantara). Orang-orang yang berhaji di abad 15 hingga 17 merupakan utusan kenegaraan atau saudagar yang kebetulan mampir ke baitullah.

Mereka yang menjalankan ibadah haji memiliki tugas tambahan. Selain sebagai pamungkas dalam rukun Islam, mereka juga memiliki tanggung jawab sosial berupa menyebarkan apa yang mereka timba dalam perjalanan kepada masyarakat di tempat asalnya. Baik urusan negara maupun saudagar punya kewajiban tersebut, karena itu banyak orang yang berusaha sekuat tenaga menabung dan menyiapkan bekal perjalanan menuju rumah Sang Khalik.

Perjalanan menuju baitullah yang menegangkan.

Para pedagang dari Arab (Hadramaut) dan India (Gujarat) menjadi “agen perjalanan haji” tak resmi yang membantu jamaah haji asal Nusantara berangkat ke baitullah. Ketika kapal-kapal mereka datang dari Tiongkok dan singgah di pelabuhan-pelabuhan di Nusantara, kru kapal menawarkan jasa berangkat ke Makkah dengan cara barter.

Untuk jasa keamanan, para pedagang asal jazirah Arab akan meminta perlindungan dari kesultanan Turki Ottoman selaku pemilik teritorial. Setidaknya itulah yang disaksikan oleh Lewis Barthema, seorang pelancong dari Roma.

Pada 1503 ia berhasil masuk ke kota Makkah dengan menyamar sebagai salah satu jamaah haji. Dia melihat beberapa jamaah haji yang berasal dari berbagai daerah, salah satunya dari anak benua (India) dan Lesser East Indies (India Timur Kecil atau Nusantara).

Kemudian semua berubah kala bangsa Eropa berkuasa. Dendam kesumat mereka terhadap Turki Ottoman dilampiaskan kepada bangsa lain, salah satunya adalah kerajaan-kerajaan Islam di kawasan Asia tenggara. Yang paling kentara adalah bangsa Portugis yang mengusung Reconquista, sebuah upaya menghancurkan Islam dan merebut wilayahnya.

Akibat konstantinopel dikuasai oleh mereka, Portugis selaku perwakilan Vatikan melakukan blokade. Yang jadi korban pertama adalah kerajaan Malaka dan Aceh, dari tahun 1511 penaklukan dilakukan oleh Portugis di selat Malaka. Walau demikian, masih ada kapal-kapal jamaah haji yang bisa lolos dari blokade Portugis.

Setidaknya tercatat pada tahun 1565 dan 1566, ada 5 kapal dari kerajaan Aceh yang berlabuh di Jeddah. Perjalanannya hanya setengah tahun, tetapi karena blokade menjadikan waktu perjalanan molor hingga 3-4 tahun karena harus mengungsi di daerah terdekat.

Blokade mulai berakhir ketika Portugis mulai kehilangan kontrol koloninya di Nusantara dan bertukar kepemimpinan oleh Belanda. Belanda tidak memusuhi orang-orang Islam secara langsung karena fokus mereka adalah mencari keuntungan (Gold) bukan kejayaan (Glory), lagipula Belanda lebih dominan Kristen protestan dibandingkan Portugis yang dominan Katolik Roma.

Belanda yang diwakili oleh Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC melihat haji sebagai ancaman keamanan, sebab rata-rata yang melakukan pemberontakan adalah seorang haji yang memiliki wawasan yang luas. Mereka tidak melihat masalah peribadatan, tetapi keberadaan para haji menjadi masalah serius dalam hal monopoli perdagangan.

Jamaah haji memiliki jaringan kekerabatan dan menyuplai komoditas dagang penting kala itu seperti rempah-rempah dan lain sebagainya. Pandangan soal haji yang berbahaya mulai berubah di abad 19 ketika tahu potensi keuangan yang dihasilkan oleh ibadah haji ini.

Kyota Hamzah

Penikmat sejarah yang kebetulan menulis

Kembali ke atas