Masa Pendidikan Napoleon Bonaparte Sang Kaisar Peracis

Potret Napoleon Bonaparte (1769-1821) yang dilukis oleh Joseph Chabord (1786-1848). Museo Napoleonico,
Rome Italy

Napoleon Bonaparte lahir di Korsika pada tanggal 15 Agustus 1729. Korsika tanah kelahirannya dulunya merupakan milik Republik Genoa yang kemudian dibeli oleh Perancis. Walaupun keluarganya tidak kaya, Ayah Napoleon adalah orang yang dihormati berkat jasa-jasanya.

Ayah Napoleon, Charles Bonaparte, adalah seorang pejuang separatis yang gigih. Dia menikahi Maria Letizia Ramolino-Bonaparte yang waktu itu berumur 14 tahun. Letizia melahirkan 13 anak, tetapi hanya 8 anak yang bertahan hidup.

Anak-anak Letizia

Ketika berusia 18 tahun, Letizia melahirkan anak keduanya yang ia beri nama Napoleon Bonaparte. Nama “Napoleon” berasal dari kata “Napoleone” yang merujuk pada kota Napoli. Nama ini diberikan untuk mengenang paman Napoleon yang tewas ditangan Perancis.

Napoleon tumbuh menjadi anak yang tidak bisa diam, dia memiliki rasa ingin tahu yang besar, dia juga sering ribut dengan saudaranya, terutama kakaknya, Joseph, yang tanpa ragu akan dia pukul dan gigit.

Saat berumur 5 tahun, Napoleon masuk sekolah berasrama di Ajaccio. Para guru disana kagum dengan bakat Napoleon dibidang matematika. Oleh karena itu, dia menjadi salah satu murid terbaik ketika lulus dari sekolah itu

Sekolah Militer Brienne

Ayah Napoleon berteman baik dengan Comte de Marbeuf, gubernur Korsika saat itu. Gubrenur itu sangat dekat dengan keluarga Bonaparte sehingga begitu mendengar bahwa Napoleon kekurangan biaya untuk sekolah, dia langsung memberikan beasiswa kepada Napoleon untuk bersekolah di sekolah militer Brienne (letaknya 200 km dari Paris).

Napoleon tidak akan melupakan jasa orang itu; setelah dia jadi kaisar, dia mengangkat putra gubernur itu menjadi baron kekaisaran dan kolonel resimen Chevau-légers (pasukan kavaleri bersenjata tombak)

Saat berumur 10 tahun, Napoleon bersekolah di Brienne dengan beasiswa. Tiga bulan sebelumnya, dia belajar bahasa Perancis terlebih dahulu di Autun. Meskipun dia bisa mempelajari bahasa Perancis dengan cepat, Napoleon tidak bisa menghilangkan aksen Italia yang dimilikinya, oleh karena itu dia terkadang salah mengucapkan kata dalam bahasa Perancis.

Di Brienne, Napoleon diejek dengan sebutan “La paille au nez” (si suara sengau) karena aksen Italianya itu terdengar aneh ditelinga teman-temannya. Tidak jarang dia memukuli anak-anak yang mengejeknya dengan sebutan itu.

Selain mendapatkan perlakuan rasis dari temannya, Ayahnya tidak pernah mengunjunginya. Hal itu menyebabkan Napoleon menjadi anak yang tertutup dan pemurung.

Untuk mengalihkan dirinya dari kegalauannya, Napoleon menjadi kutu buku sejati. Dia melahap segala karya penulis zaman kuno, tertarik dengan sejarah dan biografi tokoh terkenal, dia juga sangat menyukai pelajaran matematika. Namun dibalik itu semua, Napoleon memiliki tubuh yang tidak bugar karena jarang berolahraga, dia juga menderita rabun jauh karena terlalu banyak membaca.

Napoleon Bonaparte di Brienne

Pada September 1784, Napoleon yang telah menyerap pelajaran yang diterimanya di Brienne (terutama sains dan matematika) mengikuti ujian akhir dan lulus dengan nilai yang memuaskan.

Masuk Resimen Artileri

Saat berumur 15 tahun, Napoleon melanjutkan studinya di École Militaire de Paris. Sekolah itu memiliki 215 siswa, sebanyak 83 diantaranya adalah bangsawan tinggi. Mereka terus menerus bersikap angkuh kepada Napoleon. Hal itu membuat Napoleon marah dan memprovokasi mereka, perkelahian pun trjadi dan Napoleon selalu keluar sebagai pemenang.

Napoleon mengambil jurusan Artileri, jurusan yang hanya menerima anak-anak yang pintar matematika.

Pada tahun 1785, Napoleon menjadi perwira berpangkat letnan dua dan dikirim ke resimen artileri La Fére. Resimen itu berada disebuah garnisun di Valence, selatan Perancis.

Selama pendidikannya di Valence, Napoleon mendapat banyak pengalaman. Mulai dari juru tembak hingga komandan, semua pernah dilakukannya. Disana juga tubuhnya terbentuk karena setiap hari harus mendorong bola meriam yang berat ke dasar laras meriam.

Setelah tiga bulan ‘PKL’ di Valence, Napoleon cuti setahun untuk pulang ke Korsika yang telah dia tinggalkan selama delapan tahun. Kedatangannya itu disambut oleh tangisan bahagia Ibunya. Napoleon diberitahu bahwa ayahnya telah meninggal dua tahun sebelumnya.

Pendidikan di Auxonne

Setelah masa cutinya habis pada tahun 1788, Napoleon ditempatkan di Auxonne, disana sang letnan tinggal di barak dan makan di sebuah kedai milik seorang pengurus penginapan.

Disekolah ini, Napoleon mengikuti kuliah Matematika, mekanika, fisika dan menggambar. Dia belajar dengan tekun hingga akhirnya menjadi ahli dibidang artileri.

Beberapa bulan kemudian, Revolusi Perancis pecah, pelajaran-pelajaran yang dia dapatkan di Auxonne tidak akan pernah dia lupakan. Letnan Napoleon ditugaskan untuk mengomandoi 450 prajurit saat terjadi kericuhan. Setelah peristiwa itu, dia mengambil cuti dan pulang ke Korsika.

Napoleon mendapat banyak pengalaman berharga sebagai Letnan di Auxonne. Dia menangani meriam seberat ratusan kilogram, memotivasi dan melatih timnya hingga memimpin pasukan saat kericuhan.

Dalam kehidupan asmara remaja, Napoleon berteman dengan beberapa perempuan. Akan tetapi, walaupun mengenakan seragam megah dan pangkat Letnan, dia tidak berani merayu para gadis. Karena jarang berolahraga, dia sakit-sakitan, kulitnya sepucah lilin, dan sepatu botnya terlihat terlalu besar dan lebar. Beberapa perempuan menjulukinya “Puss in Boots” karena penampilannya itu.

Hanya saja mereka tidak menyadari bahwa pemuda penyendiri itu suatu hari akan menjadi kaisar Perancis yang membuat keadaan politik di Eropa berubah. Kaisar karismatis yang nantinya akan membentangkan sayap kekuasaan perancis dari ujung spanyol hingga kota Warsaw, Polandia.

Jais M.F

Kembali ke atas