Mengenal Sejarah Kapal Induk Kekaisaran Jepang

Kapal induk Kaga sedang bersiap melakukan penyerangan pada tahun 1937

Apakah kalian pernah menonton film Midway atau film Jepang yang berjudul Tora!Tora!Tora! ? atau Pernahkan kalian membaca sejarah tentang penyerangan Pearl Harbor ? Apa kesamaan dari ketiga hal diatas ?

Ketiga hal tersebut memiliki satu kesamaan yaitu peristiwa yang terjadi didalamnya berkaitan erat dengan yang namanya Aircraft Carrier atau kapal induk terutama kapal induk Jepang yang berperan penting dalam peristiwa dan film diatas.

Jepang selama masa Perang Dunia 2 merancang dan membangun belasan kapal induk dengan kelas yang berbeda-beda. Masing-masing kelas memiliki keunikan dan sejarahnya masing-masing.

Hōshō-class Aircraft Carrier

Hōshō sedang berlayar di Perairan Tateyama

Hōshō (鳳翔, berarti “Flying Phoenix”) merupakan kapal induk pertama Jepang dan juga salah satu kapal pertama di dunia yang bertugas sebagai kapal induk.

Kapal ini dibangun sebagai bagian dari “Eight-Six” Fleet Program of 1918 dimana program ini sendiri merupakan program untuk memperkuat armada angakatan laut Jepang. Hōshō mulai dibangun pada tanggal 16 Desember 1920 dan mulai bertugas pada tanggal 27 Desember 1922. Kapal ini dibangun oleh Asano Shipbuilding Company yang terletak di Yokohama.

Pada awalnya, Hōshō dirancang sebagai sebuah seaplane carrier. Namun, rencana tersebut direvisi karena menurut laporan para pengamat Jepang di Inggris yang saat itu bekerja sama dengan Royal Navy melaporkan bahwa ada kemungkinan untuk membuat kapal induk mereka sendiri. Laporan tersebut didukung dari fakta dimana Inggris berhasil mendaratkan pesawat diatas kapal induk HMS Furious dan HMS Argus.

Berdasarkan laporan tersebut, Jepang mengubah dan merevisi desain awal dari Hōshō. Pada akhirnya, desain inilah yang melahirkan kapal induk pertama Jepang.

Hōshō sekitar tahun 1945

Hōshō memiliki panjang 168,25 meter dan memiliki berat benaman 7.600 ton (standar). Kapal ini memiliki 2 set turbin Parson dan 8 buah Type B water-tube boilers sebagai tenaga penggeraknya. Kapal ini mampu menempuh jarak hingga 8.860nm (16.080 km) dengan kecepatan 12 knots. Selain itu, kapal ini dilengkapi persenjataan tambahan berupa 4 × single 14 cm (5.5 inci) guns dan 2 × single 8 cm (3 inci) AA guns.

Hōshō mampu membawa sekitar 15-21 pesawat dan biasanya terdiri dari pesawat pengebom torpedo. Selama karirnya, Hōshō pernah terlibat dalam Perang Tiongkok-Jepang hingga Perang Dunia 2. Setelah Perang Dunia 2 usai, kapal ini menjadi kapal repatriasi bagi para tentara Jepang yang hendak pulang ke negaranya. Akhirnya pada tahun 1947, Hōshō dihancurkan dan bagiannya dirongsok oleh Kyōwa Shipbuilding Company.

Akagi-class Aircraft Carrier

Akagi sedang melakukan uji coba di Perairan Iyo pada tanggal 17 Juni 1927

Akagi (赤城, berarti “Red Castle”) merupakan salah satu kapal induk milik Jepang yang namanya diambil dari Gunung Akagi di Prefektur Gunma.

Pada awalnya, Akagi dibangun bukan sebagai sebuah kapal induk melainkan sebagai bagian dari Amagi-class battlecruiser (kapal penjelajah tempur). Namun, dikarenakan adanya pembatasan dari Traktat Laut Washington memaksa pemerintah Jepang saat itu harus mengubah sepenuhnya Akagi dari sebuah kapal tempur menjadi sebuah kapal induk.

Pembangunan Akagi sendiri dilakukan di Kure Naval Arsenal yang dimulai pada akhir tahun 1920 dan pembangunannya sendiri baru selesai pada awal tahun 1927. Lamanya pembangunan disebabkan oleh dua hal yaitu saat pembangunan berlangsung, tepatnya tahun 1923, Akagi mengalami kerusakan akibat gempa bumi dan adanya perubahan desain.

Akagi memiliki tiga buah dek penerbangan dan panjang 261,21 meter serta memiliki berat benaman sekitar 27.000 ton (standar). Untuk tenaganya, Akagi dilengkapi dengan 19 Kampon water tube-boilers dan 4 set turbin uap Gihon. Mesin ini menghasilkan kecepatan maksimum hingga 32,5 knots.

Kapal ini mampu berlayar sejauh 8.000nm (15.000 km ) dengan kecepatan 14 knots. Selain itu, Akagi dilengkapi dengan 6 × single 20 cm guns, 6 × twin 12 cm AA guns dan 14 × twin 25 mm AA guns. Kapal ini mampu membawa pesawat berjumlah hingga 66 buah.

Pada tahun 1935, beberapa struktur Akagi direkonstruksi. Rekonstruksi ini bertujuan menambah kapasitas pesawat yang bisa diangkut dan memberikan tambahan jangkauan tembak dari senjata anti-pesawat.

Akagi sedang berlayar pada musim panas tahun 1941

Akagi memulai karirnya dengan ikut dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua pada tahun 1939. Kemudian pada tahun 1941, Akagi memasuki puncak karirnya dimana ia ikut aktif dalam penyerangan di berbagai wilayah di Perairan Pasifik hingga Hindia serta perannya dalam penyerangan Pearl Harbor. Naas baginya, pada tahun 1942, karir Akagi harus berakhir saat ia tenggelam dalam Pertempuran Midway akibat serangan pesawat Amerika.

Kaga-class Aircraft Carrier

Kaga sedang berlayar di Perairan Tateyama pada tahun 1928

Kaga (加賀) merupakan kapal induk Jepang yang namanya diambil dari sebuah provinsi kuno Jepang yaitu Provinsi Kaga (sekarang merupakan Prefektur Ishikawa).

Nasib Kaga tak jauh berbeda dari Akagi dimana ia awalnya bukan merupakan kapal induk namun salah satu kapal dari Tosa-class battleship. Perubahan ini merupakan dampak dari adanya Traktat Laut Washington. Selain itu, Kaga diubah menjadi kapal induk untuk menggantikan Amagi yang rusak akibat gempa bumi.

Kaga memiliki panjang 238,5 meter dan berat benaman 27.000 ton (standar) serta mempunyai tiga buah dek penerbangan sama seperti Akagi. Ia ditenagai 4 buah turbin uap Kawasaki Brown-Curtis dan 12 Kampon Type B (Ro) boilers yang dapat menghasilkan kecepatan hingga 27,5 knots. Kaga sendiri mampu berlayar sejauh 8,00nm (15,000 km) dengan kecepatan 14 knots. Ia dilengkapi dengan 10 × 20cm/50 3rd Year Type guns dan 6 × twin 12-centimeter (4.7 in) 45-caliber 10th Year Type Model A2 AA gun sebagai persenjataan tambahan.

Kaga setelah direkonstruksi

Pada tahun 1935, Kaga direkonstruksi. Rekonstruksi ini berupa perubahan dek penerbangan, penambahan struktur baru, penggantian mesin baru dan perubahan persenjataan. Tujuannya adalah meningkatkan kinerja dan meningkatkan kapasitas serta stabilitas Kaga. Setelah rekonstruksi, Kaga mampu membawa hingga 90 pesawat.

Kaga mengawali karirnya dengan bergabung kedalam 1st Carrier Division. Ia terlibat dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua dan juga terlibat dalam dua insiden berbeda yaitu Shanghai Incident dan Panay Incident. Tanggal 7 Desember 1941, ia dan lima kapal induk lainnya melakukan penyerangan ke Pearl Harbor. Pada awal tahun 1942, ia banyak membantu Jepang dalam penyerangan di wilayah Barat Pasifik, Hindia Belanda dan Australia. Karir Kaga berakhir ketika ia tenggelam dalam Pertempuran Midway setelah terkena bom dari pesawat SBD Dauntless dari USS Enterprise.

Sōryū-class Aircraft Carrier

Sōryū sedang berlabuh di di Kepualaun Kurile

Sōryū (蒼龍, berati “Blue (or Green) Dragon”) merupakan salah satu kapal induk Jepang yang dinamai untuk salah satu hewan mitologi penjaga arah mata angin yaitu Azure Dragon.

Pembangunan Sōryū merupakan hasil dari 2nd Naval Armaments Supplementary Programme. Proses pembangunan Sōryū dilakukan di Kure Naval Arsenal dan memakan waktu hingga 3 tahun lamanya.

Sōryū memiliki panjang 227,5 meter dan berat benaman sekitar 16.200 ton (standar). Ia ditenagai oleh 4 turbin uap dan 8 buah Kampon water-tube boilers yang dapat menghasilkan daya sebesar 152.000 shp dan kecepatan maksimum hingga 34,5 knots. Sōryū mampu berlayar sejauh 7,750nm (14,350 km) dengan kecepatan 18 knots. Sōryū mampu membawa hingga 70 pesawat dalam sekali berlayar. Untuk pertahanannya , Sōryū dipersenjatai dengan 6 × twin 12.7 cm dual-purpose guns dan 14 × twin 25 mm AA guns.

Sōryū mengawali karirnya dengan bergabung ke dalam 2nd Carrier Division. Lalu , ia ditugaskan dalam mendukung tentara Jepang dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua. Akhir tahun 1940, pesawatnya ikut dalam penyerangan di wilayah Indochina Perancis. Pada tanggal 7 Desember 1941, ia dan lima kapal induk Jepang melakukan penyerangan ke Pearl Harbor. Beberapa dari pesawatnya merusak dan menenggelamkan kapal Amerika. Sepanjang tahun 1942, ia banyak beroperasi di Samudera Hindia dan Pasifik terutama di wilayah Hindia Belanda. Sōryū tenggelam dalam Pertempuran Midway setelah dihantam bom oleh pesawat Amerika dari USS Yorktown.

Hiryū-class Aircraft Carrier

Hiryū sedang melakukan uji coba kecepatan pada tanggal 28 April 1939

Hiryū (飛龍, berarti “Flying Dragon”) merupakan kapal induk Jepang yang dinamai untuk hewan mitologi Jepang yaitu naga.

Sebenarnya Hiryū masih satu kelas dengan Sōryū namun beberapa pakar sejarah berpendapat bahwa mereka tidaklah sama dikarenakan desain Hiryū merupakan hasil modifikasi dari desain Sōryū. Berdasar dari hal itulah, Hiryū akhirnya dikategorikan ke kelasnya sendiri.

Hiryū memiliki panjang 227,4 meter dan berat benaman 17.600 ton (standar). Ia ditenagai oleh 4 buah turbin uap dan 8 buah Kampon water-tube boilers yang dapat menghasilkan 153.000 shp dan kecepatan maksimum hingga 34,5 knots. Hiryū mampu menempuh jarak hingga 10.330nm (19.130 km) dengan kecepatan 18 knots. Untuk persenjataan, Hiryū dilengkapi dengan 6 × twin 12.7 cm Type 98 dual-pupose guns, 7 × triple 25 mm Type 96 AA guns dan 5 × twin 25 mm Type 96 AA guns. Hiryū mampu membawa hingga 64 buah pesawat.

Hiryū rusak dan terbakar setelah Pertempuran Midway

Ia dan saudarinya, Sōryū berperan dalam membantu tentara Jepang dalam penyerangan di wilayah Indochina Perancis. Ia juga banyak membantu dalam penyerangan di wilayah Pasifik dan Hindia. Pada tanggal 7 Desember 1941, ia dan lima kapal induk lainnya menyerang Pearl Harbor. Beberapa dari pesawatnya merusak dan menenggelamkan belasan kapal dan pesawat milik Amerika salah satunya adalah USS Arizona. Saat Pertempuran Midway, pesawat dari Hiryū berhasil merusak USS Yorktown. Namun, Hiryū sendiri akhirnya harus ditenggelamkan karena rusak dan terbakar hebat setelah diserang oleh pesawat dari USS Enterprise dan USS Yorktown.

Shōkaku-class Aircraft Carrier

Shōkaku di Yokosuka pada tanggal 8 Agustus 1941

Kapal induk kelas Shōkaku merupakan kelas kapal induk Jepang yang terdiri dari Shōkaku (翔鶴, berarti “Soaring Crane”) dan Zuikaku (瑞鶴, berarti “Auspicious Crane”). Kedua kapal ini dinamai untuk Crane (burung bangau) yang merupakan simbol dari keberuntungan dan keharmonisan dalam mitologi Jepang.

Pembangunan kelas ini merupakan hasil dari 3rd Naval Armament Supplement Program. Desain kelas Shōkaku mengambil dari konsep desain Hiryū. Pembangunan Shōkaku dan Zuikaku masing-masing dilakukan di Yokosuka Naval Arsenal dan Kawasaki Kobe Shipyard.

Kelas Shōkaku memiliki panjang 157.5 meter dengan berat benaman sekitar 26.000 hingga 30.000 ton (standar). Keduanya ditenagai oleh 4 buah turbin uap Kampon dan 8 buah Kampon Type Model B water-tube boilers yang dapat menghasilkan tenaga sebesar 160.000 shp dan kecepatan maksimum hingga 34.5 knots. Keduanya juga mampu berlayar sejauh 9.700nm (19.000 km) dengan kecepatan 18 knots.

Kelas Shōkaku dilengkapi dengan 8 × twin 127 mm DP guns dan 12 × triple 25 mm AA guns. Selain itu, kelas ini juga dilengkapi dengan Type 21 early-warning radar, Type 13 air-search radar dan sebuah Type 91 hydrophone.

Awak dari Zuikaku memberi hormat kepada bendera Asahi sebelum kapal tersebut tenggelam

Kedua kapal dari kelas ini memulai karirnya sebagai bagian dari 5th Carrier Division. Mereka bersama dengan empat kapal induk lainnya menyerang Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1941. Pada tahun 1942, mereka terlibat dalam Pertempuran Laut Coral dimana mereka berhasil menenggelamkan USS Lexington. Masih di tahun yang sama, mereka juga terlibat dalam banyak pertempuran di sekitar perairan barat daya Pasifik salah satunya di dekat Pulau Santa Cruz dimana mereka berdua berhasil merusak USS Enterprise dan menenggelamkan USS Hornet. Pada tahun 1944, Shōkaku tenggelam dalam Pertempuran Laut Filipina akibat ditorpedo oleh USS Cavalla sedangkan Zuikaku tenggelam dalam Pertempuran Tanjung Engaño akibat serangan pesawat dari Gugus Tugas 38 milik Amerika.

Hiyō-class Aircraft Carrier

Kapal induk Hiyō

Kapal induk kelas Hiyō merupakan kapal induk Jepang yang terdiri dari dua kapal yaitu Hiyō (飛鷹, berarti “Flying Hawk”) dan Jun’yō (隼鷹, berarti “Peregrine Falcon”).

Awalnya, kelas ini dibangun sebagai sebuah kapal penumpang dengan nama Izumo Maru dan Kashiwara Maru oleh perusahaan Nippon Yusen. Namun, kedua kapal tersebut dibeli dan diubah oleh Menteri Angkatan Laut Jepang saat itu menjadi sebuah kapal induk sehingga mengubah nama dan fungsinya.

Kelas Hiyō memiliki panjang 220 meter dengan berat benaman 24.150 ton (standar). Kelas ini juga memiliki sepasang turbin uap Mitsubishi-Curtis sebagai propulsinya. Untuk tenaganya, Hiyō dipasangi Mitsubishi three-drum boilers sedangkan Jun’yō dipasangi Kawasaki-LaMont three-drum boilers. Kelas ini mampu berlayar dengan kecepatan hingga 25,5 knots dan mampu beroperasi hingga sejauh 11.700nm (21.700 km) dengan kecepatan 18 knots.

Untuk persenjataanya, kelas ini dilengkapi oleh 6 × twin 12.7 dual-purpose guns dan 8 × triple 25 mm AA guns. Selain senjata, kelas ini juga dilengkapi dengan beberapa macam tipe radar dan fire-control directors. Kelas ini mampu membawa 42 sampai 52 buah pesawat.

Sepanjang karirnya, kedua kapal dari kelas ini banyak membantu tentara Jepang dalam kampanye perang di Kepulauan Aleutian dan Guadalcanal. Selain itu, mereka juga berpartisipasi dalam Operation I-Go. Pada tahun 1944, mereka terlibat dalam Pertempuran Laut Filipina dimana Hiyō tenggelam setelah diserang oleh pesawat Amerika sedangkan Jun’yō berhasil selamat dari serangan tersebut dan akhirnya dirongsok sekitar tahun 1946 hingga 1947 oleh Sasebo Ship Company.

Taihō-class Aircraft Carrier

Kapal induk Taihō

Taihō (大鳳, berarti “Great Phoenix“) merupakan kapal induk Jepang yang dinamai dari salah satu hewan mitologi Jepang yaitu burung Phoenix. Ia juga merupakan armoured carrier pertama Jepang.

Taihō merupakan hasil dari adanya 4th Naval Supplementary Programme. Desain dari Taihō sendiri merupakan hasil modifikasi dan pembesaran dari desain Shōkaku. Pembangunan Taihō berlangsung di Kawasaki Kobe Shipyard pada tanggal 10 Juli 1941 dan selesai pada tanggal 7 Maret 1944.

Dalam Modified Circle Five Program, muncul sebuah proyek bernama Project G15 dimana proyek ini menggunakan desain Taihō namun dengan skala ukuran yang lebih besar. Namun, proyek ini tak direalisasikan lantaran Jepang kalah dalam Perang Dunia 2.

Secara keseluruhan, Taihō memiliki panjang 260.6 meter dengan berat benaman 30.250 ton (standar). Ia ditenagai oleh 4 buah turbin uap Kampon dan 8 buah Kampon RO-GO boilers yang dapat menghasilkan tenaga sebesar 160.00 shp dan kecepatan hingga 33,3 knots. Taihō mampu beroperasi hingga sejauh 10.00nm (19.000 km) dengan kecepatan 18 knots.

Taihō dilengkapi dengan 12 × 10 cm/65 Type 98 naval gun dan 51 × 25 mm Type 96 AA guns untuk persenjataanya. Selain dilengkapi dengan banyak senjata, Taihō pun dilengkapi dengan tambahan 2 buah Type 94 fire-control directors, 2 buah Type 21 radars dan 1 buah Type 13 radar. Taihō mampu mengangkut sebanyak 65 hingga 80 buah pesawat.

USS Albacore

Karir Taihō sangatlah singkat terhitung hanya 3 bulan saja ia bertugas sampai akhirnya tenggelam. Ia hanya terlibat dalam satu pertempuran yaitu Pertempuran Laut Filipina dimana ia tenggelam setelah terkena serangan torpedo dari USS Albacore.

Unryū-class Aircraft Carriers

Kapal induk Unryū

Kelas Unryū (雲龍, berarti “Cloud Dragon“) merupakan kelas kapal induk Jepang yang dibangun sebagai bagian dari Rapid Naval Armaments Supplement Programme dan Modified 5th Naval Armaments Supplement Programme. Kelas ini sendiri direncanakan terdiri dari 16 buah kapal namun dalam realisasinya hanya 3 kapal yang berhasil diselesaikan.

Desain dari kelas ini diambil dari hasil modifikasi desain Hiryū. Selain itu, muncul desain juga desain baru yaitu G18 yang merupakan penyederhanaan dari desain Unryū namun tak dapat terealisasikan lantaran Jepang menyerah dalam perang. Pembangunan dari kelas Unryū sendiri dilakukan di galangan kapal di Yokosuka, Kobe, Kure dan Nagasaki.

Kelas Unryū memiliki panjang 227.35 meter dengan berat benaman sekitar 17.00 ton (standar) dan ditenagai oleh 4 buah turbin uap Kampon serta 8 buah RO-GO water-tube boilers yang dapat menghasilkan tenaga sebesar 152.000 shp dengan kecepatan maksimum hingga 34 knots. Kapal-kapal dalam kelas ini mampu beroperasi hingga sejauh 8.000nm (15.000 km) dengan kecepatan 18 knots

Kelas ini dilengkapi dengan 12(6 × 2) 127 mm Type 98 AA guns, 93 (21 × 3 dan 30 × 1) 25 mm Type 96 AA guns dan ratusan peluncur roket anti-pesawat. Selain senjata, kelas ini juga dilengkapi dengan radar, hidrofon dan juga sonar aktif. Kapasitas pesawat yang mampu dibawa oleh kelas ini berkisar antara 53 hingga 65 buah pesawat.

Kasagi, salah satu kapal dari kelas Unryū

Kesuksesan karir dari kelas Unryū tidaklah banyak lantaran mereka diselesaikan di fase akhir perang dan saat itu kekuatan laut Jepang sudah kalah telak dibandingkan dengan Sekutu. Unryū, sang kapal pemimpin, tenggelam di Laut China Timur setelah ditorpedo oleh USS Redfish sedangkan kapal lainnya seperti Amagi, Katsuragi dan Kasagi pada akhirnya dirongsok sekitar tahun 1946 hingga 1947.

Shinano-class Aircraft Carrier

Shinano berlayar di Teluk Tokyo

Shinano (信濃) merupakan sebuah kapal induk Jepang yang namanya diambil dari sebuah provinsi kuno Jepang yaitu Provinsi Shinano (sekarang bernama Prefektur Nagano).

Kapal ini awalnya bukanlah sebuah kapal induk melainkan salah satu kapal tempur dari kelas Yamato. Namun, setelah Jepang kehilangan empat kapal induknya dalam Pertempuran Midway, akhirnya angkatan laut Jepang saat itu menginstruksikan perubahan Shinano.

Proses konstruksi Shinano dilakukan di Yokosuka Naval Arsenal dan pembangunannya dirahasiakan oleh Jepang.

Shinano memiliki panjang 265.8 meter dan berat benaman 65.800 ton (standar). Ia merupakan kapal induk terbesar pada masanya sebelum akhirnya dikalahkan oleh kelas Forrestal dari Amerika. Shinano ditenagai oleh 4 buah turbin uap Kampon dan 12 buah Kampon water-tube boilers yang dapat menghasilkan tenaga sebesar 150.000 shp dan kecepatan sekitar 28 knots serta mampu beroperasi hingga sejauh 10.000nm (19.000 km) dengan kecepatan 18 knots.

Shinano dipersenjatai dengan 8 × twin 12.7 cm dual-purpose guns, 35 × triple 2.5 cm AA guns dan 12 × 28-barrel 12 cm AA rocket launchers. Selain itu, ia juga dilengkapai dengan berbagai peralatan tambahan seperti radar, sonar dan fire-control directors. Dalam beberapa sumber menyatakan bahwa Shinano mampu membawa hingga 47 buah pesawat atau lebih.

USS Archerfish

Karir Shinano dimulai pada tanggal 19 November 1944. Lalu, pada tanggal 29 November 1944, ia dengan tiga kapal perusak Jepang berlayar bersama untuk mengantarkan pesawat ke Pulau Okinawa dan Filipina. Namun ditengah perjalanan, konvoi tersebut diserang oleh kapal selam USS Archerfish dan akhirnya Shinano tenggelam setelah terkena empat buah torpedo dari kapal selam tersebut.


Sumber :

Baca juga :

Ave Neohistorian!

Rangga Wijaya

History Enthusiasm and Hobbyist

Kembali ke atas