Miyamoto Musashi, Samurai Legendaris Pengguna Dua Pedang

Miyamoto Musashi (宮本 武蔵), atau Niten Doraku, merupakan filsuf, penulis, samurai, dan ronin pada awal zaman Edo. Namanya melegenda karena dia merupakan pengguna dua pedang yang terbilang unik pada masa itu, dan tak terkalahkan dalam 60 duel. Dia merupakan penemu teknik pedang Niten-Ichi-ryu, dan penulis seni bela diri dan berpedang Go Rin No Sho atau The Book of Five Rings dan Dokkodo atau The Path of Aloneness. Nama asli dari samurai hebat ini adalah Shinmen Takezo. Kata Musashi merupakan lafal lain dari “Takezo” (huruf kanji bisa memiliki banyak penyebutan dan arti). Musashi memiliki nama lengkap Shinmen Musashi No Kami Fujiwara No Genshin.

 Merujuk kepada buku Go Rin No Sho, Musashi lahir sekitar 1584 di desa Miyamoto, Provinsi Harima. Nama Ayah Musashi adalah Shinmen Munisai. Seorang seniman bela dir, ahli pedang dan pengguna senjata jitte yang sering dipakai polisi zaman Edo. Menyandang status sebagai anak dari orang yang ahli di bidang bela diri memang mengagumkan. Tapi Musashi bukanlah orang yang mengandalkan nama ayahnya belaka.

Masa Kecil

Ayah Musashi, Munisai Hirata, meninggal ketika ia diperkirakan baru berusia 6 tahun. Setelah ibunya kemudian juga meninggal, maka Musashi kemudian ikut paman dari pihak ibu yaitu Dorinbo dan Tasumi. Kedua pamannya mengajari dia agama Buddha dan pendidikan dasar seperti menulis dan membaca Dengan demikian, ia sudah yatim piatu ketika Toyotomi Hideyoshi menyatukan Jepang pada tahun 1590.

Duel Pertama

Jika merujuk kepada ceritanya di Go Rin No Sho, lawan pertama Musashi adalah samurai bernama Arima Kihei, pengguna Kashima Shinto-ryu (Salah satu Bela diri Jepang gaya lama) ketika dia berusia 13 tahun. William Scott Wilson, penerjemah samurai terkenal berkata, Kihei pada saat itu berkelana untuk mempertajam ilmu berpedangnya. Di Hirafuku, Kihei mengunggah tantangan publik, yang kemudian ditanggapi Musashi dengan menuliskan namanya sendiri di kertas. Seorang pembawa pesan lalu datang ke kuil Dorinbo di mana Musashi tinggal, dan memberi tahu bahwa tantangannya telah diterima oleh Kihei. Dorinbo pun terkejut.

Kepada Kihei, dia meminta agar pertarungan dengan keponakannya dibatalkan mengingat usia Munisai masih belia. Kihei menolak. Dia berkata satu-satunya jalan adalah Musashi harus datang saat hari pertarungan, dan minta maaf secara langsung. Jadi, saat hari pertarungan tiba, Dorinbo meminta maaf atas nama Musashi. Di luar dugaan, Musashi malah berteriak menantang Kihei. Kihei yang marah kemudian menyerang Musashi menggunakan wakizashi. Namun, Musashi melempar Kihei hingga terjengkang. Saat Kihei berusaha bangun, Musashi langsung memukulnya tepat di antara dua matanya, dan kemudian memukul hingga tewas. “Arima konon adalah samurai yang arogan, selalu bersemangat dalam pertarungan, dan bukan samurai yang terlatih,” kata Wilson.. Di 1599, diperkirakan saat itu usianya 15 tahun jika mengacu duelnya dengan Arima, Musashi meninggalkan desa dan mengembara.

Pengembaraan

Dalam pengembaraan, diketahui Musashi terlibat dalam banyak pertarungan. Salah satu duel terkenalnya adalah melawan Tadashima Akiyama dari Provinsi Tajima. Pada 1600, ketika pertempuran antara Klan Toyotomi dan Klan Tokugawa pecah, Musashi memihak Toyotomi, dan bergabung dengan Pasukan Barat dengan nama Klan Shinmen. Konon, dia terjun dalam berbagai medan. Antara lain serangan dalam memperebutkan Istana Fushimi pada Juli 1600. Kemudian, dia melindungi Kastil Gifu pada Agustus 1600, dan terakhir adalah Pertempuran Sekigahara yang terjadi pada 21 Oktober 1600. Setelah pertempuran, Musashi sempat menghilang, dan kemudian dilaporkan berada di Kyoto pada usia sekitar 20 atau 21 tahun.

Duel dengan klan Yoshioka

Saat berada di Kyoto, dia menantang murid-murid dari Sekolah Pedang Yoshioka yang pada saat itu adalah satu dari delapan perguruan bela diri terkenal di Kyoto. Musashi yang bertekad untuk mendapat ketenaran pun menantang duel Yoshioka Seijuro yang saat itu merupakan kepala keluarga Yoshioka.

Duel antara Seijuro dan Musashi terjadi 6 Maret 1604, dengan hasil Musashi berhasil menjatuhkan dan mematahkan lengan Seijuro. Kemenangan Musashi atas Seijuro membuat nama terakhir mundur sebagai kepala keluarga Yoshioka, hingga akhirnya memilih untuk menjadi biarawan.

Namun kegemilangan Musashi nggak berhenti sampai di situ. Yoshioka Denshichiro, adik dari Seijuro, mengambil giliran maju menggantikan sang kakak dan menantang Musashi untuk berduel. Namun, hasil berkata lain, Musashi memenangkan duel tersebut, Denshichiro pun mati terbunuh. Kematiannya membuat klan Yoshioka terpukul. Mereka bersumpah untuk menuntut balas dengan cara melenyapkan Musashi dari muka bumi.

Setelah kematian Denshichiro, klan Yoshioka selanjutnya dipimpin oleh Matashichiro yang masih berusia dua belas tahun . Tak berselang lama, klan Yoshioka kembali menantang Musashi untuk duel dengan Matashichiro di malam hari.

Duel di malam hari bukanlah hal yang lumrah untuk dilakukan, dan ini membuat Musashi curiga. Ia memutuskan untuk datang sebelum waktu yang ditentukan, lalu bersembunyi dan mengamati apa yang direncanakan musuhnya.

Saat yang ditunggu pun tiba. Matashiciro datang dengan memakai atribut perang lengkap, bukan hanya itu, Matashiciro juga membawa kurang lebih 50 samurai dan sekumpulan pemanah. Musashi tersadar bahwa klan Yoshioka mengincar nyawanya.

Musashi pun menunggu saat yang tepat untuk menyerang Matashichiro. Tapi setelah ia berhasil membunuh Matashichiro, sekumpulan samurai dan pemanah yang di bawa Matashiciro bermunculan dan berusaha menghentikannya, tetapi usaha tersebut akhirnya berujung dengan kegagalan. Dengan tewasnya Matashichiro di tangan Musashi, kejayaan klan Yoshioka berakhir sudah. Konon, di sinilah Musashi menciptakan aliran Niten Ichi-Ryu- nya. Niten Ichi-Ryu  adalah seni berpedang klasik Jepang yang menggunakan kombinasi dua pedang besar-kecil di dalam bertarung, yakni katana dan wakizashi.

Aliran Niten Ichi-Ryu
via https://id.wikipedia.org/wiki/Miyamoto_Musashi#:~:text=Miyamoto%20Musashi%20(??%20??)%2C,Nama%20aslinya%20adalah%20Shinmen%20Takezo.

Setelah meninggalkan Kyoto, beberapa dokumen menceritakan Musashi sempat berkunjung ke Hozoin di Nara. Di mana dia berduel dan belajar dari biksu setempat. Antara 1605-1612, dia bepergian ke seluruh Jepang sebagai musha shugyo, atau samurai peziarah yang mengasah kemampuan lewat duel.

Selama berkeliling Jepang itu, Musashi telah melakukan duel sebanyak 60 kali dan tak terkalahkan menggunakan bokken atau pedang kayu. Pada tahun 1611, Musashi mulai mempelajari seni meditasi atau zazen di kuil Myoshin-ji di mana dia bertemu Nagaoka Sado, abdi samurai bernama Hosokawa Tadaoki. Dalam duel 60 kali nya itu ia juga pernah melawan ahli senjata lainnya. Tepatnya pada tahun 1607 Musashi pernah melawan Shishido Baiken, sang ahli kusarigama (sabit berantai). Pada akhirnya Baiken tewas di tangan Musashi, meskipun ia sempat mengucapkan terima kasih pada Musashi sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

Wujud Kusarigama
via legendsofwindemere.com

Pada tahun yang sama, Musashi juga melawan Muso Gunnosuke  yang merupakan ahli jojutsu (senjata semacam tongkat pendek). Duel ini berakhir dengan kemenangan Musashi, tetapi tidak banyak data yang dapat dikumpulkan dari duel ini.

Wujud Jojutsu
via https://www.seidoshop.com/products/shinto-muso-ryu-bokken-classic-woods

Duel Dengan Sasaki Kojiro

Patung Musashi vs Kojiro
via https://isatravel-world.co.id/miyamoto-musashi-samurai-legendaris-jepang/

Tahun 1612 merupakan salah satu masa yang paling dikenang dari perjalanan seorang Miyamoto Musashi. Karena di tahun itulah Musashi berhadapan dengan musuh abadinya yang juga ahli dalam seni berpedang, Sasaki Kojiro yang dikenal sebagai “Setan dari Provinsi Barat”. Kojiro dikenal sebagai ahli nodachi, atau pedang yang bentuknya lebih panjang dari pedang samurai biasa.

Saat itu, usia Musashi kurang lebih 28 tahun. Musashi yang datang terlambat kemudian mengusulkan agar pertarungan digelar di Pulau Funajima di Selat Kanmon yang membatasi Honshu dan Kyushu. Legenda berkata, Kojiro terbunuh dengan bokken yang diasah dari dayung yang membawa Musashi ke pulau duel. Konon, pedang kayu (bokken) yang dibuat oleh Musashi lebih panjang dari nodachi (pedang panjang) yang dipakai Sasaki. Duel berjalan sengit. Namun, duel berakhir dengan kemenangan Musashi

Batu peringatan Musashi di Ichijoji, Kyoto

Banyak sekali legenda yang menyebar tentang bagaimana cara Musashi mengalahkan Kojiro. Salah satunya dia menunggu matahari berada di posisi yang tepat. Ketika duel dimulai, dia sengaja memunggungi matahari terbit sehingga Kojiro dibutakan oleh sinar yang membuat Musashi dengan mudah membunuhnya. Atau dugaan lain di mana dia sengaja datang terlambat sehingga memancing kemarahan Kojiro, yang membuatnya menyerang Musashi secara serampangan. Saat Musashi datang terlambat, pendukung Kojiro berkata dia tidak menghormati lawannya. Adapun pendukung Musashi berkata itu cara wajar untuk mengintimidasi lawan.

Masa Tua

Setelah duelnya dengan Sasaki Kojiro, pada tahun 1640, Musashi bergabung dengan klan Hosokawa, salah satu klan besar yang termasuk dalam daimyo (bangsawan feodal) di Jepang. Musashi tinggal bersama daimyo (penguasa) Istana Kumamoto, Hosokawa Tadatoshi yang ironisnya, merupakan tuan dari Sasaki Kojiro. Selang beberapa tahun setelahnya, ia mulai menulis  buku The Book of Five Rings atau Go Rin No Sho.

Di samping itu Musashi juga fokus untuk mengasah kemampuan kaligrafi dan melukisnya. Ia mengenal seni kaligrafi dan melukis dari pamannya yang merupakan salah satu penganut ajaran Buddha Zen

Beberapa tahun kemudian, Musashi dengan kesehatannya yang semakin menurun kemudian memutuskan untuk menyendiri demi menyelesaikan Go Rin No Sho. Buku ini adalah buku seni perang yang berisi strategi perang dan metode duel, yang diperuntukkan bagi muridnya Terao Magonojo. Namun oleh peneliti barat, buku ini dianggap rujukan untuk mengenal kejiwaan dan pola berpikir masyarakat Jepang. Buku ini menjadi klasik dan dijadikan rujukan oleh para siswa Kendo di Jepang. Musashi dianggap sedemikian hebatnya sehingga di Jepang ia dikenal dengan sebutan Kensei, yang berarti Dewa Pedang. Musashi meninggal diperkirakan pada usia 61 tahun di gua bernama Reigando pada 13 Juni 1645, dan diyakini menderita kanker paru-paru.

Saat dia meninggal, Musashi baru saja merampungkan buku Dokkodo berisi 21 aturan tentang kedisiplinan diri bagi generasi masa depan. Jenazahnya dimakamkan menggunakan baju zirah di desa Yuge, dekat jalan utama Gunung Iwato, adapun rambutnya ditanam di Iwato. Musashi tidak menikah dan tidak mempunyai keturunan, tetapi ia mempunyai seorang anak angkat sekaligus murid yang juga masih saudara sepupunya bernama Iori Miyamoto.

Pengaruh

via cbr.com
Vagabond karya Takehiko Inoe

Studi kehidupan dan hasil karya Musashi masih tetap relevan pada masa kini, karena mencakup taktik dan strategi yang dapat diaplikasikan untuk berbagai kegiatan praktis seperti periklanan, bisnis, dan militer. Berbagai produk budaya seperti film dan buku sastra terinspirasi dari kisah Musashi, diantaranya yang terkenal ialah novel Musashi karya penulis Eiji Yoshikawa, film Samurai I : Musashi Miyamoto karya sutradara Hiroshi Inagaki, dan Komik Vagabond karya Takehiko Inoe. Inspirasi yang diberikan oleh Musashi tidak saja terjadi pada masyarakat Jepang, tetapi juga pada masyarakat dari berbagai penjuru dunia.

via https://id.wikipedia.org/wiki/Musashi_(novel)
Novel Musashi karya penulis Eiji Yoshikawa
via https://mydramalist.com/6598-samurai-i-musashi-miyamoto
Samurai I : Musashi Miyamoto karya sutradara Hiroshi Inagaki

Referensi

https://internasional.kompas.com/read/2018/06/13/23590011/biografi-tokoh-dunia–miyamoto-musashi-ahli-pedang-legendaris-jepang?page=all

https://id.wikipedia.org/wiki/Miyamoto_Musashi#:~:text=Miyamoto%20Musashi%20(??%20??)%2C,Nama%20aslinya%20adalah%20Shinmen%20Takezo.

https://duniaku.idntimes.com/geek/culture/aditya-daniel/ini-8-fakta-musashi-miyamoto-samurai-paling-terkenal-di-dunia

https://www.selipan.com/story/unique-history/membaca-kembali-sepak-terjang-miyamoto-musashi-samurai-legendaris-yang-serba-bisa/

https://isatravel-world.co.id/miyamoto-musashi-samurai-legendaris-jepang/

Hilmi

Kembali ke atas