Penguin, Pekakak, Burung Hantu, dan Kereta Super Cepat Shinkansen

Kereta Shinkansen? Kereta super cepat itu bukan? Mungkin begitulah reaksi orang awam Ketika mendengar kata Shinkansen, namun apabila disuruh menghubungkan hubungan antara ketiga jenis burung diatas dengan Kereta Super Cepat asal negeri matahari terbit tersebut? Hampir tidak ada yang bisa menjawab. Memang adakah hubungannya? Bukankah Mustahil menghubungkan 3 Jenis Burung tersebut dengan Sebuah Inovasi Modern asal Negeri Sakura tersebut?               

Untuk Menghubungkannya, Kita Harus Kembali ke masa dimana ide kereta cepat berasal.

Tahun 1939

Stasiun Tokyo, antara 1914-1940, bukti bahwa Jepang sudah maju dalam urusan Perkeretaapian bahkan sebelum PD II Meletus (oldtokyo.com)

Sebenarnya, usaha orang Jepang untuk memiliki Kereta Super Cepat sudah ada dari jaman Restorasi Meiji, namun salah satu prototype yang paling mirip pada masa awal pengembangan Kereta Cepat ialah “Dangan Ressha” yang berarti kereta peluru. Kereta ini pada awalnya ditujukan untuk menhubungkan Jalur  Tōkaidō di seputaran Tokyo dan Jalur San’yō di Jepang Barat, dua jalur kereta api terbesar dan Paling Sibuk di Jepang.

               Pemerintah Jepang sudah mempersiapkan pengembangan kereta Cepat tersebut, mulai dari pembebasan lahan, untuk membangun Jalur kereta berukuran lebar, dan juga sudah membangun terowongan untuk Kereta yang melintas.

               Namun pada 1941, Perang Pasifik dimulai, Seluruh Hasil Pekerjaan DItinggalkan begitu saja, Dangan Ressha tak pernah terwujud di tanah Jepang.

Pasca PD II

Pada Tahun 1957, Saat Electric Boom (Keajaiban Ekonomi Jepang pasca PD II) melanda Jepang, Usaha untuk mewujudkan Kereta Super Cepat Kembali terlintas di benak pemerintah Jepang saat itu, namun kali ini, banyak warga yang menentangnya, dimana campur tangan AS pada mas aitu sangat kental, Warga Jepang Takut Kualitas Perkeretaapian Negara Mereka malah mengalami degradasi akibat campur tangan AS

  • (Fun Fact, meski AS menjadi negara adidaya, namun Perkeretaapian AS, khususnya kereta Penumpang, memliki kualitas yang buruk) .

Namun, bagaimanapun juga, Pemerintah Jepang tetap mendorong Pengembangan Kereta Cepat tersebut, dan pada 1964, Shinkansen pada Jalur Tōkaidō, menjadi salah satu akses transportasi Favorit masyarakat Jepang.

Pada 1970, Jepang sukses memamerkan kecanggihan Shinkansen mereka, usai menjadi akses transportasi pada World Expo 1970 di Osaka, dan melihat keberhasilan Shinkansen pada Jalur Tōkaidō, Pemerintah Jepang membuka akses Shinkansen baru di Jalur San’yō pada tahun 1972, dan diperpanjang dari Osaka sampai Hakata  pada tahun 1975

World Expo Osaka 1970 (messynessychic.com)

Semakin banyak Shinkansen, semakin banyak Masalah?

Namun seiring berjalannya waktu, berbagai masalah mulai muncul pada Shinkansen, mulai dari masalah ketidak stabilan shinkansen Ketika diatas rel, dan  yang paling mencolok ialah masalah Suara. Permasalahan ini muncul karena kebanyakan rel kereta Shinkansen terletak di masalah Suara.

Kereta Shinkansen bergerak sangat cepat, dengan kecepatan rata-rata 167 mph pada masa itu, menghasilkan suara yang sangat berisik, terutama saat melewati Terowongan

Pada gambar diatas dijelaskan, pada saat kereta melewati terowongan, kereta tersebut akan mendorong gelombang atmosferik , dan menekannya sampai pada ujung terowongan lainnya, dan pada saat kereta tersebut sudah keluar terowongan, gelombang atmosferik menjadi ledakan suara sonic, menyebar sampai 400 M jauhnya, dan menimbulkan suara luar biasa kencangnya dimana-mana, dan diperparah dengan lingkungan sekitar rel kereta shinkansen merupakan pemukiman warga.

Hubungan antara Tiga Unggas dengan Sebuah Kereta Cepat

Pada tahun 1986, banyak penduduk yang tinggal disekitar trek Shinkansen menuntut JNR (Japan National Railway), dari Hasil Tuntutan tersebut, pengadilan memenangkan pihak warga. JNR akhirnya harus merogoh kocek untuk biaya ganti rugi dan juga pemasangan Sound Barrier disekitar trek Shinkansen

Eiji Nakatsu Berdiri disamping Shinkansen hasil inovasinya (raillife.com.tr)

               Pada Tahun 1989, JR West, Perusahaan Pecahan dari JNR yang beroperasi di Jalur Tokyo-Osaka dan Osaka-Fukuoka membentuk Tim Investigasi yang bertujuan untuk membentuk desain Shinkansen yang Baru, agar kereta dapat berjalan dengan lebih halus, dan juga tidak berisik. Eiji Nakatsu, DIrektur Pengembangan Teknis dari Tim tersebut merupakan pemerhati burung.

Perbandingan Pantograph Hasil Inovasi Nakatsu dengan Sayap Burung Hantu

Nakatsu membuat 3 desain komponen baru untuk Shinkansen, dengan 3 jenis burung berbeda.

Pantograph, atau alat yang menghubungkan kereta dengan kabel elektrik diatasnya, didesain dengan mengikuti pola lengkungan, serta gerigi sayap burung hantu. Pola ini digunakan burung hantu untuk menukik dengan suara pelan agar mangsanya tidak sadar. Nakatsu mengimplementasikan hal tersebut, dan berhasil menjadikan Shinkansen berjalan dengan suara rendah, khususnya saat beradi di Terowongan.

Badan Pantograph, yang terinspirasi dari Perut dan Sayap Penguin Adelle

Penguin jenis Adelie,yang biasanya menggunakan sayap dan perut mereka untuk bergerak dengan mulus dan cepat, serta tidak menggunakan banyak tenaga, menjadi inspirasi Nakatsu untuk membuat batangan Pantograph, hal tersebut sukses membuat Shinkansen bergerak lebih cepat dan lebih mulus dan yang paling penting, tahan dari pengaruh angin.

Perbandingan Moncong Kereta Peluru Shinkansen hasil inovasi Nakatsu, dengan paruh burung Pekakak

Dan yang paling terakhir, dan yang paling penting, ialah paruh Kingfisher (Pekakak)

Burung Pekakak ialah jenis burung yang menggunakan paruhnya untuk memangsa mangsanya yang berada di dalam air. Paruhnya yang khas membuat Pekakak dapat mencelupkan dirinya ke air dengan mudah, tanpa mendapat tekanan besar dari tabrakannya dengan air. Nakatsu kemudian mengetes hipotesanya tadi dengan metode sama persis, prototype kepala mini shinkansen yang baru dicelupkan ke air, dan yang menghasilkan celupan dan cipratan paling kecil, yang kemudian menjadi kepala Shinkansen sekarang.

Kepala Shinkansen baru ini , yang terinspirasi burung pekakak, berguna untuk memecah gelombang atmosferik yang ikut masuk ke dalam terowongan Bersama kereta, agar tidak menjadi sonic boom pada mulut terowongan lainnya, dan menimbulkan suara dahsyat.

Pada saat ketiga temuan Nakatsu diimplementasikan, Shinkansen menjadi 10% lebih cepat , 15% lebih hemat listrik, serta tetap tidak menghasilkan suara berisik di area pemukiman warga. Temuan Nakatsu ini juga membantu pengembangan Kereta cepat di belahan bumi lainnya, seperti TGV Prancis, dan ICE Jerman

Apakah Anda sekarang Percaya bahwa Shinkansen ada hubungannya dengan 3 jenis ungags diatas? Berterimakasihlah pada mereka karena tanpa mereka mungkin kita tidak akan bisa membuat kereta cepat yang sempurna, Ave Neohistorian!

Sumber : VOX.com dan Nippon.com, dengan sedikit perubahan serta alih bahasa

Farrel Maja Mahardika

Kembali ke atas