Perang Salib: Konflik Islam Dan Kristen Memperebutkan Kota Suci

Perang Salib adalah perang besar yang sangat rumit karena melibatkan faktor paling pribadi manusia, yaitu agama atau kepercayaan.

Sebelum membahas lebih jauh, alangkah baiknya jika kita memahami terlebih dahulu apa arti Perang Salib yang sesungguhnya. Singkatnya, perang Salib adalah serangkaian konflik antara pasukan Kristen dari Eropa dan pasukan Islam dari Afrika dan Timur Tengah yang diawali oleh seruan Paus kepada kerajaan-kerajaan di Eropa.

Mengapa disebut Perang Salib?

Fakta sejarah menunjukan bahwa Perang Salib terjadi karena adanya Seruan dari Paus Urbanus II pada tahun 1905 (setahun sebelum terjadinya Perang Salib I) untuk merebut kembali tanah suci Yerusalem dari Islam. Saat itu, raja-raja di Eropa menghormati eksistensi Paus sebagai pemegang kekuasaan tertinggi umat Katolik.

Paus Urbanus II (1035-1099)

Oleh karena itu begitu mendengar seruan dari sang Paus, raja-raja dari Eropa segera mengirimkan pasukannya untuk berjuang merebut kembali kota suci Yerusalem. Prajurit-prajurit dari eropa bersatu dibawah lambang yang sama yaitu Salib. Perbedaan bahasa dan budaya tidak jadi masalah ketika mereka bersama berjuang untuk agamanya.

Simbol salib yang digunakan sebagai identitas pasukan salib menjadi alasan mengapa perang ini disebut Perang Salib. Simbol salib terdapat pada bendera, baju zirah, hingga pedang dan perisai yang dibawa oleh pasukan salib.

Penggunaan kata ‘salib’ dalam perang ini mengisyaratkan bahwa panggung utama dimiliki oleh orang Eropa. Itulah sebabnya mengapa sudut pandang mengenai Perang Salib diambil dari perspektif Eropa atau agama Kristen.

Namun. pasukan Islam juga berperan sama pentingnya seperti Kristen. Dalam setiap pertempuran, Umat Islam menggunakan attribut berupa bendera bertuliskan kalimat syahadat dan simbol bulan sabit.

Karena itulah Perang ini bisa disebut juga sebagai “Perang Bulan Sabit” atau Crescent War. Ada juga pemakaian kata yang lebih netral yang menunjukan kesucian perang ini yaitu “Perang Suci” atau Holy War.

Namun, kedua nama tersebut terdengar asing ditelinga orang zaman sekarang. Sejarah mencatat perang antara Islam dan Kristen ini sebagai “Perang Salib” atau Crusade War.

Pemicu Perang Salib

Bizantium Terancam

Sejak abad ke-7, islam tumbuh menjadi kekuatan baru di Dunia. Pasukan Islam dibawah Kekhalifahan Rasyidin berhasil merebut Yerusalem dari Kerajaan Bizantium pada tahun 637.

Selain mengalami kekalahan di Yerusalem, Bizantium juga didesak oleh kekuatan Persia di Syams (sekarang suriah).

Pada tahun 1071, terjadi pertempuran Manzikret antara Turki Seljuk dan Bizantium. Turki Seljuk keluar sebagai pemenang dsn Bizantium harus menerima kenyataan pahit karena untuk pertama kalinya rajanya menjadi tawanan perang. Raja tersebut adalah Romanos IV.

Ketika Romanos IV kembali ke Konstatinopel (Bizantium), ia dibenci oleh rakyatnya sehingga ditawan dinegaranya sendiri. Ia disiksa hingga kedua matanya buta. Dia akhirnya meninggal dengan mengenaskan.

Sementara Turki Seljuk menikmati kemenangan mereka dengan mendirikan pemerintahan baru di Anatolia (wilayah bekas Bizantium) yaitu kesultanan Rum atau Turki Seljuk Rum.

Pada tahun 1081, Alexios I Komnenos menjadi raja di Bizantium. Dia kemudian meminta dukungan dari Paus Urbanus II untuk mengalahkan Turki Seljuk Rum. Alexios I Komnenos meyakinkan Paus, jika Bizantium kalah maka Eropa akan terancam.

Pengaruh Reconquista

Reconquista adalah perlawanan melalui perang oleh kerajaan-kerajaan Kristen di semenanjung Iberia utara (sekarang Spanyol dan Portugal) terhadap kerajaan islam di semenanjung Iberia selatan.

Pada tahun 1031, Kekhalifahan Umayah Cordoba telah runtuh dan terpencar menjadi dinasti dinasti kecil yang otonom. Hal tersebut membuat kekuatan islam semakin lemah karen kurangnya persatuan.

Momen tersebut dimanfaatkan oleh kerajaan kristen di Semenanjung Iberia selatan (Castilla, Aragon, Navarre, Leon dan Portugal) untuk mengusir Islam dari Semenanjung Iberia.

Selain faktor pembubaran Kekhalifana Umayyah Cordoba, kekuatan Islam juga lemah karena adanya pemerintahan feodal dan diskriminatif yang membeda-bedakan warga negara pribumi Arab, campuran, dan non-islam.

Pada tahun 1085, kerajaan Castilla berhasil merebit Thaifah Toledo (salah satu dinasti muslim). Berita tersebut menyebar luas ke Eropa dan melahirkan semangat bahwa Islam dapat dikalahkan.

Pada tahun 1806, Kerajaan Kristen yang bersatu berhasil mengalahkan kekuatan islam di Spanyol yang dibantu oleh Kekhalifahan Maghrib (Maroko) pada pertempuran Zalaqah.

Kemenangan kerajaan Kristen itu menginspirasi Paus Urbanus II untuk membentuk pasukan Salib.

Faktor Yerusalem

Yerusalem adalah kota suci 3 agama Abrahamik: Kristen, Islam, Yahudi. Oleh karena itu 3 agama tersebut hidup berdampingan di Yerusalem yang saat itu dikuasai oleh Kekhalifahan Rasyidin.

Paus Urbanus II mendapatkan informasi dari pedagan eropa yang berdagang di Yerusalem bahwa disana umat kristen mendapatkan diskriminasi.

Tahun 1009 merupakan tahun kelam bagi kristen dan yahudi di Yerusalem. Saat itu, Khalifah Al-Hakim melakukan tindak kekerasan terhadap umat selain islam bahkan menghancurkan gereja tempat penyaliban Yesus.

Paus Urbanus II yang geram setelah emndengar berita tersebut segera menyusun strategi untuk menaklukan Yerusalem.

Politik Negara Islam

Hubungan politik 3 kerajaan islam saat itu: Fathimiah, Abbasiah, Turki Seljuk sedang tidak baik. Kekhalifahan Fathimiah (di wilayah mesir) yang beraliran Syiah dibangun karena kekecewaan terhadap Kekhalifahan Abbasiah yang beraliran Sunni. Mereka berpendapat bahwa keturunan Ali-lah yang pantas menjadi khalifah didunia Islam, dan bukan keturunan Bani Abbas.

Turki Seljuk dengan Kekhalifahan Abbasiah juga tidak harmonis. Karens Turki Seljuk yang dulunya merupakan tentara Kekhalifahan Abbasiah kini tampil sebagai pemimpin kekuatan Islam.

Hubungan Turki Seljuk dan Kekhalifahan Fathimiah juga buruk karena bersaing menentukan posisi terkuat di dunia Islam.

Kerajaan-kerajaan Islam yang tercerai-berai ini tidak tahu bahwa kerajaan Kristen yang bersatu akan menyerang mereka.

Semangat Keagamaan

Semenjak yerusalem ditaklukan oleh Klalifah Umar, usaha dari Bizantium untuk merebut Yerusalem tidak mendapat dukungan dari kerajaan-kerajaan kristen. Kepercayaan kerajaan di Eropa barat yang beraliran Katolik lebih berkembang dibanding kepercayaan Bizantium yang beraliran Ortodoks.

Momen kekalahan Bizantium yang mengancam eksistensi kristen di Eropa-lah yang akhirnya membuat kedua aliran tersebut bersatu melawan musuh mereka yaitu Islam.

Perang Salib merupakan Perang yang diserukan oleh Paus di Roma. Paus merupakan pemimpin tertinggi Katolik sehingga kepitusan dari Paus harus dipatuhi oleh umat Katolik.

Peta Eropa saat Perang salib

Akhir kata, pelajaran yang dapat kita petik dari Perang ini adalah ‘persatuan mendatangkan kemenangan’. Negara-negara Islam yang saling bersaing berhasil dikalahkan oleh Negara-negara Kristen yang bersatu walaupun berbeda aliran. Kerajaan Islam di Spanyol pada masa ini juga runtuh karena adanya diskriminasi antara Muslim dan Non-muslim.

Jais M.F

Kembali ke atas