Perang Yarmuk, Langkah Masuknya masa Kekhalifahan Islam dalam Peradaban Dunia

T elah tercatat dalam sejarah perjalanan umat muslim, tentang salah satu peristiwa penting yang menjadi tonggak tersebarnya peradaban Islam, yakni Perang Yarmuk.

Pertempuran Yarmuk adalah perang antara Muslim Arab dan Kekaisaran Romawi Timur pada musim panas tanggal 15-20 Agustus 636 M atau pada tahun 13 H. Pertempuran ini, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena dia menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya menganut agama Kristen. Peperangan ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab , khalifah Rasyidin kedua, tetapi konflik telah dibangun semanjak zaman Abu Bakar As Shidiq, khalifah Rasyidin pertama.

Perang yang juga dinamakan Battle of Hieromyax ini diakui sebagai yang paling gemilang, karena mampu meluluh-lantakkan kedigdayaan Romawi sebagai imperium besar pada waktu itu. Jumlah pasukan ditambah pasokan persenjataan tidak menyurutkan semangat pasukan kaum muslimin untuk maju ke medan perang.

Berikut kisah lengkapnya:

Latar Belakang

Pemberian nama terhadap perang ini berdasarkan lokasi yang tak jauh dari Lembah Yordania, di utara Sungai Yordan dan begitu dekat dengan dataran tinggi Golan, atau lembah dan sungai Yarmuk.

Penyebab terjadinya adalah pergerakan pasukan Islam untuk mengusir tentara Romawi dari dataran Arab. Kaum Muslimin ingin melawan Pasukan Romawi bertujuan untuk membebaskan daerah taklukan mereka.

Tiga pasukan yang berisi 3000 orang perkelompok, bergerak ke utara untuk menyerang Suriah sebelah selatan dan tenggara seusai Perang Riddah pada musim gugur 633 M.

Ketiganya berada di bawah kepemimpinan Amr ibn al-Ash, Yazid ibn Abi Sufyan, dan Syurahbil ibn Hasanah. Amr mengambil rute pesisir melewati Aylah, sementara Yazid dan Syurahbil bergerak ke Tabuk-Ma’an.

Jumlah pasukan kemudian bertambah menjadi 7.500-an orang, setelah Abu Ubaydah ibn al-Jarrah memimpin salah satu pasukan untuk mengambil rute haji kuno Madinah-Emesa sebagai jalannya.

Keadaan Romawi  Sebelum Peperangan

Ketika pasukan Islam mulai mengarah ke Syam, tentara Romawi terkejut dan merasa takut. Kontan saja mereka kirimkan surat untuk memberitakan perkara ini kepada Heraklius, Raja Romawi yang berada di Himsh (sekarang Homs).

Dia pun melayangkan surat balasan yang justru menyarankan agar tentara Romawi memilih jalan damai. Tentara Romawi yang tak mau menghiraukan saran semacam itu, memaksa Raja Heraklius mau tidak mau mengirim pasukan besar-besaran.

Tentara Romawi yang mulai bergerak pun menghentikan rombongan mereka di Lembah Al-Waqusah, di samping dataran rendah Sungai Yarmuk dengan banyak sekali jurang.

Manajemen  Kedatangan  Pasukan dari Irak menuju Syam

Batalyon Islam yang menduduki Syam lekas meminta bantuan. Maka Abu Bakr Ash-Shiddiq memerintahkan Khalid bin Al-Walid agar menarik diri dari ’Iraq menuju Syam bersama barisan tentaranya. Sesegera mungkin Khalid menunjuk Al-Mutsanna bin Haritsah untuk menggantikannya di ’Iraq.

Khalid menyiapkan batalyon terkuatnya, terdiri dari Dharar bin al-Khattab, al-Qa’qa’ bin Amr at-Tamimi, Ashim bin Amr, Dharar bin al-Azwar, dan lain-lain, sampai terkumpul 10 ribu pasukan menuju Syam.

Ia pilih melalui gurun-gurun yang bergelombang dan menyimpan sumber air langka, sehingga pergerakan pasukan tidak akan menarik perhatian. Pasukan akan tersembunyi dari penglihatan berkat kontur tanah yang bergelombang. Sedangkan kelangkaan sumber air membuat orang-orang jarang tinggal atau melalui tempat tersebut.

Persiapan Pasukan Berkuda Khalid bin Walid
Sumber: docplayer.info

Persiapan Pasukan Islam menuju Medan Perang

Abu Bakar as-Shiddiq mengirimkan empat batalyon tentara Islam ke Suriah usai menyelesaikan penaklukan Persia pada akhir tahun 12 H. Abu Bakar memilih Amr bin Ash, Yazid bin Abu Sufyan, Abu Ubaidah bin Jarah, dan Syurahbil bin Hasanah sebagai pemimpinnya.

Namun, Kaisar Heraklius tengah singgah di Homs saat itu mengetahui rencana ini. Menyambut taktik ini, Heraclius menerapkan strategi penyerangan terhadap pasukan Muslimin secara terpisah, karena mereka terpecah di bawah kepemimpinan empat orang. Namun, keempat panglima Islam pun mengetahui akal-akalan Romawi ini, sehingga diputuskan agar mereka menyatukan pasukan.

Pengangkatan Khalid Bin Walid                        

Khalid bin Walid Sama sekali tidak gentar tentang peperangan yang akan dia hadapi, saat Khalifah Abu Bakar menunjuknya menjadi panglima. Ia hanya khawatir tidak akan mampu mengendalikan hati sebab pengangkatan itu.

Kendati Abu Bakar takkan serta-merta begitu saja menunjuk pejuang dengan julukan Pedang Allah itu. Khalid dikenal sebagai orang yang keras sejak kecil, padahal ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga kaya. Ia menceburkan diri dalam seni peperangan dan bela diri sejak usia dini, serta mencurahkan perhatian dalam kepemimpinan armada tempur.

Strategi Perang Kaum Muslimin

Pasukan muslimin terdiri dari 40.000-45.000 prajurit (sumber lain mengatakan 24.000-40.000 orang) yang dibagi menjadi 36-40 detasemen kecil di bawah komando Khalid bin Walid..Pasukan inti yang berada di tengah terbagi atas 18 detasemen di bawah pimpinan Abu Ubaidah, Ikrimah, dan al-Qa’qa.Lalu barisan kanan berjumlah 10 detasemen di bawah pimpinan ‘Amr bin ‘Ash dan Syurahbil bin Hasanah.

Kemudian kelompok sebelah kiri terbagi menjadi 10 detasemen di bawah komando Yazid bin Abu Sufyan.Selanjutnya regu depan hanya satu detasemen kecil untuk mengawasi gerak-gerik musuh.Sedangkan, pasukan yang terletak di belakang ada 5 detasemen di bawah pimpinan Sa’id bin Yazid.

Abdullah bin Mas’ud punya tugas khusus dalam mengurus logistik pangan, kebutuhan pasukan, juga harta rampasan perang.Al-Miqdad bin al-Aswad nantinya berkeliling barisan demi barisan untuk melafalkan ayat-ayat jihad sebagai motivasi pasukan. Sementara khatib yang bertugas membakar semangat adalah Abu Sufyan bin Harb.

Terakhir, Khalid memberi instruksi kepada para wanita agar bersiap sedia dengan tongkat, pedang, atau bahkan pisau belati.Pasukan Islam mulai berkumpul dan berhadapan dengan musuh pada awal bulan Jumadil Akhir tahun 13 H.

Strategi Pasukan Romawi                    

Pemimpin pasukan Romawi Timur dalam Perang Yarmuk adalah Theodor. Ia membawahi pasukan Romawi berjumlah 240 ribuan (sumber lain menyebutkan 100.000-400.000 orang) di Antiokhia.

Barisan ini terdiri atas pasukan pejalan kaki 80 ribu, pasukan berkuda 70 ribu, pasukan bergajah 10 ribu, dan pasukan yang diikat dengan rantai besi (agar tidak lari dari peperangan) 80 ribu.

Mereka membagi tentaranya menjadi lima bagian, depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Heraclus sebagai panglima tentara Romawi menggunakan taktik dan strategi tetsudo (kura-kura). Jenis tentara Romawi dikenal sebagai ‘legions’, yang satu bagiannya terdapat 3.000-6.000 laskar berjalan kaki dan 100-200 laskar berkuda. Tentara bergajah pun turut memperlengkap persiapan mereka menggempur tentara muslim

Mereka berteriak-teriak dengan suara yang sangat tinggi, sementara para pihak gereja mengelilingi pasukan sambil membacakan Injil sebagai motivasi agar mereka gigih dalam berperang.

Jarajah (George) memimpin kelompok di lini depan, sementara Mahan dan Qanateer mengomandoi sayap kiri dan kanan. Lalu pasukan penyerang belakang berada di bawah perintah Al-Qolqolan (menantu Heraklius).Sedangkan tampuk kepemimpinan tertinggi serta pemimpin bagian tengah pasukan dipegang oleh saudara kandung Heraklius yang bernama Tadzariq.

Perundingan Sebelum Pecahnya Pertempuran

Menjelang perang bergema, Mahan kembali mengundang muslimin untuk negoisasi, dan dari perwakilan Muslim Khalid ra sebagai wakilnya.

“Kami mengetahui, bahwa yang mendorong kalian keluar dari negeri kalian tak lain hanyalah kelaparan dan kesulitan. Jika kalian setuju, saya beri masing-masing kalian 10 dinar lengkap dengan pakaian dan makanan, asalkan kalian pulang kembali ke negeri kalian. Di tahun yang akan datang saya kirimkan sebanyak itu pula…!” tawar Mahan.
“Sebenarnya, yang mendorong kami keluar dari negeri kami, bukan karena lapar seperti yang anda sebutkan tadi, tetapi kami adalah satu bangsa yang biasa minum darah. Dan kami tahu benar, bahwa tak ada darah yang lebih manis dan lebih baik dari darah orang-orang Romawi, karena itulah kami datang!” jawab Khalid ra. menteror lawan.

(Ibnu Katsir, 7/14)

Keyakinan Kaum Muslimin                        

Detik-detik menjelang jalannya peperangan, salah seorang berkata pada Khalid, “Alangkah banyaknya pasukan Romawi dan alangkah sedikitnya pasukan muslimin.”

Khalid menjawab dengan penuh keyakinan, “Celaka engkau, engkau hendak menakutiku dengan pasukan Romawi?Pasukan itu tidak di hitung dari jumlah. Aku berharap al-Asyqar (kuda Khalid) sembuh dan pasukan Romawi menjadi lemah berkurang.”

Walau dengan perbedaan jumlah yang sangat jauh, keyakinan Khalid juga seluruh pasukan kaum muslimin tetap kokoh dan tak goyah melihat berapapun banyak pasukan Romawi.

Meletusnya Pertempuran 6 Hari Yang Sangat Menentukan

Hari Pertama

Kondisi Hari Pertama Perang Yarmuk
Sumber: bukitbarisan.wordpress.com

Episode duel menjadi genderang pembuka Perang Yarmuk. Abdurrahman bin Abu Bakar menjadi jawara terbaik dengan kehebatannya membunuh lima jago perangnya Bizantium. Mahan mulai khawatir moral pasukannya menurun karena melihat kehebatan dan terampilnya personil Muslimin dalam bertempur. Ia lalu mengumumkan serangan umum saat matahari berada di puncak langit.

Mahan melakukan serangan terbatas sekedar untuk menjajal dan mengetahui kekuatan dan strategi pasukan Muslimin, dan jika memungkinkan, ia akan melakukan tekanan kuat pada bagian terlemah Muslimin. Majulah barisan infantri Bizantium yang berjalan perlahan-lahan menuju barisan Muslimin. Saat mereka berada dalam jarak jangkauan panah, Khalid memerintahkan untuk menghujani mereka dengan panah. Saat jarak kedua pasukan semakin kecil, Muslimin mulai menghunuskan pedangnya.

Bentrokan pun tak terhindarkan. Sayangnya banyak pasukan Bizantium tidak memiliki kemampuan tinggi dalam melakukan serangan sebagaimana gempuran Muslimin yang berpengalaman dalam kancah jihad sebelumnya.

Ada barisan yang bertempur sangat keras dan ada barisan front yang tidak terlalu intensif bergesekan antar pasukan. Saat matahari terbenam, pertempuran usai dan masing-masing kembali ke perkemahannya. Pasukan Bizantium menderita lebih banyak daripada Muslimin.
Para Muslimah dan mujahidah mulai menjalankan tugasnya untuk mengobati luka-luka Muslimin sambil memberi semangat jihad.

Mereka bersyukur berhasil memukul mundur musuh. Dan seperti malam sebelumnya, mereka kembali menghabiskan waktu malamnya untuk berdzikir dan merenungkan al-Qur’an sebelum tidur. Memasuki waktu tengah malam, beberapa pasukan Bizantium pergi ke medan perang untuk menghambil jasad-jasad pasukannya yang tewas. Malam itu berjalan dengan tenang tanpa pertikaian apapun.

Hari Kedua

Sumber: bukitbarisan.wordpress.com
Hari Kedua Perang Yarmuk

Mahan, melalui rapat dewan perang di malam hari, memutuskan untuk menyerang Muslimin di waktu fajar, saat pasukan Muslimin diperkirakan tidak siap tempur. Dalam kegelapan malam, beberapa jam lamanya Mahan mempersiapkan serangan. Mahan menyusun taktik dengan menghantam pasukan tengah Muslimin dengan pasukan tengah, begitu pula pasukan sayap Muslimin dengan pasukan sayapnya, kemudian menggiring tekanan ke arah tengah.Untuk mengamati jalannya pertempuran, ia membangun menara besar di belakang sayap kanan pasukan dan dijaga oleh 2.000 bodyguard dari Armenia.

Saat masuk waktu fajar, pasukan Bizantium langsung menyerbu Muslimin yang memang dalam kondisi tidak siap. Namun Khalid ra. Telah menyiapkan pasukan penjaga di garis depan sepanjang malam. Pasukan ini menahan singkat gempuran mendadak dari musuh, namun memberi waktu bagi pasukan utama untuk mempersiapkan diri. Matahari belum lagi memancarkan sinarnya saat benturan dua gunung sudah mengguncang bumi.

Bizantium melancarkan serangan untuk menjepit pasukan tengah, terjadi pertempuran yang seimbang dan tidak terlalu keras di bagian tengah. Bizantium kemudian melakukan serangan untuk mengapit barisan tengah Muslimin.

Pangeran Qanater memimpin pasukan yang menghantam hebat infantri sayap kanan pasukan Muslimin yang dipimpin Amru ibn Ash sampai perlahan-lahan mundur.  Namun, Amru berhasil memukul balik musuh, namun Qanater segera mengganti pasukannya yang masih segar.

Amru berhasil untuk kedua kalinya memukul lawan. Saat pasukan Qanater maju dengan kekuatan barunya (baris ketiga), pasukan Muslimin sudah letih sehingga tertekan dan mundur perlahan-lahan akibat desakan Bizantium.Amru pun meminta bantuan 2.000 kavaleri MG (Mobile Guard) kepada Khalid ra.

Pertempuran tak kalah berat pada bagian sayap kiri Bizantium, pertemuan pasukan Gregory dan Mahan dengan Yazid.

Pasukan rantai Gregory bergerak lambat namun solid sehingga menekan pasukan Muslimin. Yazid mengerahkan kavaleri kudanya, namun tidak bisa membalas tekanan Bizantium. Beberapa barisan Muslimin pun mulai koyak sehingga ada yang lari ke belakang.

Sindiran Para Wanita

Seorang penunggang kuda dari satuan Yazid yang pertama tiba di belakang (markas) adalah Abu Sofyan. Hindun (istrinya) dan Khaulah yang merupakan pemimpin kaum perempuan menyambutnya dengan baik. Mereka meneteng tiang tenda dan bebatuan.

“Mau kemana putra Harb? Kembalilah bertempur dan tunjukkan keberanianmu, dengan begitu semoga engkau mendapat ampunan Allah karena memiliki dosa melawan Rasulullah!” sergah Hindun sambil memukulkan tongkatnya ke kepala kuda suaminya, Abu Sofyan.
Pasukan wanita lainnya juga menyindir dan menyemangati kembali pasukan yang mundur sehingga kembali ke depan barisan. Bahkan ada beberapa mujahidah yang maju ke depan dengan kuda dan berhasil membunuh pasukan Bizantium dengan pedangnya.

Counter Attack dari Pasukan Muslimin

Pasukan tengah terjepit dan tertekan ke belakang, begitu pula pasukan sayap Muslimin. Namun belum berhasil menceraiberaikan pasukan pimpinan Khalid ra. itu. Di pertengahan hari, Khalid ra. memutuskan menggunakan mobile guard -nya dan kavaleri cadangan untuk membalas tekanan musuh serta untuk menstabilkan situasi.

Khalid ra. bergerak ke sayap kanan bersama mobile guard dan kavaleri cadangan sayap kanan untuk menyerang sisi pasukan Qanater, pada saat yang sama, Amru bin Ash membalas serangan dari barisan depan. Pasukan Bizantium pun munder ke tempat semula. Amru bin Ash kembali mengambil alih panggung sayap kanan dan menata ulang pasukannya untuk ronde berikutnya.

Khalid ra bersama Yazid membalas tekanan pasukan Gregory. Ia juga menggerakkan satu resimen kavaleri pimpinan Dhirar untuk menghantam barisan depan pimpinan Jarajah (George) sehingga mundur ke belakang bahkan membunuhnya Ia lalu menerjang pasukan Gregory dengan mobile guard- nya, menyebabkan barisan Gregory mundur, namun bergerak lambat karena adanya rantai yang mengikat antar pasukannya.

Sumber: bukitbarisan.wordpress.com

Saat matahari terbenam, pertempuran pasukan tengah sudah mereda, dan Bizantium kembali mundur seperti pada posisinya di pagi hari. Mahan lantas menunjuk Qaren sebagai pengganti Jarajah (George)

Hari Ketiga

Sumber: bukitbarisan.wordpress.com
Strategi Mahan

Setelah kegagalan rencana tempurnya yang terlalu ambisius serta kematian komandan seniornya, Mahan mencoba taktik yang lebih realistis.Rencana tersebut adalah menghantam daerah antara barisan tengah dan sisi kanan pasukan Muslimin yang nampak lemah berdasarkan pengalaman sebelumnya. Qanater memimpin penyerangan ini. Pertempuran pun dimulai dengan benturan antara Bizantium dengan Amru bin Ash dan Syurahbil.

Amru mengalami medan pertempuran terkeras. Jumlah pasukan musuh yang besar sementara pasukan Muslimin mulai keletihan karena tidak memiliki pasukan cadangan yang cukup untuk mengganti pasukan yang terlukan dan kecapaian. Beberapa front mulai koyak akibat serangan pasukan Qanater. Tak ayal sebagian Muslimin mundur lari ke belakang, dan lagi-lagi mereka berhadapan dengan para mujahidah, sehingga terpaksa mereka kembali lagi ke depan.

Seorang mujahidah menghampiri Khalid dan menyarankannya untuk segera membantu pasukan Amru. Sang panglima Khalid ra. Segera mengirimkan mobile guard-nya memukul sisi kanan pasukan Qanater yang merupakan pasukan tengah bagian kanan Bizantium. Pada saat yang sama Amru juga melancarkan serangan balasan kavalerinya dengan memukul sisi kiri Qanater. Sementara Syurahbil memukul balik dari garis depan.

Benturan keras terjadi antar kedua pihak. Qanater pun kelabakan digerus dari berbagai sisi sehingga ketika masuk waktu sore, ia terpaksa mundur kembali pada posisi awalnya seperti di pagi hari. Pertempuran usai saat matahari terbenam. Ribuan pasukan Bizantium tewas di hari ketiga, sedangkan pasukan Muslimin hanya kehilangan ratusan mujahid. Pada malam harinya, Khalid dan Abu Ubaidah berjalan mengunjungi setiap satuan tempurnya dengan memberi semangat terhadap mereka yang terluka.

Hari Keempat

Pada hari keempat intensitas pertempuran meningkat. Mahan merencanakan pertempuran pada hari keempat sebagai pertempuran yang menentukan. Khalid pun berpikir serupa, ia melihat hari itu sebagai titik kritis.

Walaupun pasukan Muslimin keletihan dibanding Bizantium, namun semangat dan moral mereka jauh melebihi pasukan musuh. Pasukan Bizantium mengulang taktik perang seperti hari sebelumnya, menghantam sayap kanan Muslimin. Khalid telah membaca taktik ini. Sehingga sebelum perang berkecamuk, ia sudah menempatkan pasukan kuat untuk mendukung pertahanan Amru.

Qanater kembali bertemu dengan Amru bin Ash dan Syurahbil. Pasukan Amru bin Ash sempat memukul mundur Qanater namun tidak terlalu berhasil sehingga ia harus menahan keras gebrakan musuh. Akibatnya, pasukan Syurhabil terpukul mundur nyaris mendekati markasnya.

Khalid, seperti biasa, mengerahkan mobile guard-nya untuk merobek tekanan Bizantium pada Syurahbil. Khalid ra. memecah mobile group-nya menjadi dua. Grup 1 dipercayakan kepada Qais bin Khubaira untuk memukul sisi kanan Bizantium, dan grup satunya lagi tetap ia pegang untuk memukul sisi kiri Bizantium yang menekan Syurahbil. Majulah pasukan Muslimin dari sisi kiri Qais, dari tengah Syurahbil, dan Khalid ra. dari kanan. Pasukan Bizantium terpukul mundur dimana pada siang hari mereka kembali pada posisi semula.

Sumber: bukitbarisan.wordpress.com
Khalid bin Walid memecah mobile guardnya

Asal nama Hari Hilangnya Mata

Sementara pertempuran terus berlangsung di daerah kanan Muslimin, pada bagian kiri, Yazid dan Abu Ubaidah juga berjuang memukul Bizantium.

Pasukan sayap kiri Muslimin mengalami pertempuran berimbang dengan pasukan Gragory, namun banyak Muslimin yang menjadi korban serangan panah Bizantium sehingga banyak yang buta. Ribuan pemanah Bizantium yang berbaris di belakang infantri, menghujani ribuan panah ke arah Muslim sehingga begitu banyak terluka. Begitu banyaknya panah yang melayang di udara, sampai-sampai cahaya matahari seolah meredup seketika. Lebih 500 Muslimin kehilangan matanya karena terkena mata panah sehingga pertempuran pada hari keempat dikenal juga sebagai Hari Kehilangan Mata. Akibatnya Muslimin terpukul mundur lagi, namun tidak bagi Ikrimah bin Abu Jahal yang berada disisi kiri satuan Abu Ubaidah.

Ikrimah menyongsong barisan tengah tentara lawan yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang bersama hanya beberapa ratus prajurit muslim.

Dia berkata, “Aku dahulu memerangi Rasulullah di setiap medan pertempuran. Hari ini, apakah aku akan lari dari pasukan lawan?”

Lalu dia menambahkannya dengan berseru, “Siapa yang mau berbai’at untuk mati?!”

Maka berbai’atlah Dhirar ibn Al-Azwar, Al-Harits ibn Hisyam, bersama 400 prajurit muslim.

Hal itu merupakan bukti tindakannya, yakni keberanian melaksanakan serangan sampai gugur dan memperoleh kesyahidannya.

Saat-saat gugur, rupanya sudah ada lebih-kurang 70 luka bekas anak panah, tikaman pedang, sampai ketajaman tombak di tubuhnya.

Saat senja bertandang, pertempuran pun usai, semua pasukan kembali
baraknya masing-masing. Jumlah pasukan yang mati di kedua belah pihak semakin bertambah dari hari sebelumnya. Pasukan Muslimin yang terluka bahkan jauh lebih banyak dari yang sehat tanpa luka.Malam itu merupakan malam yang berat bagi Khalid ra karena pada hari itu ia merasakan luka yang mendalam atas syahidnya Ikrimah yang merupakan teman kecilnya dulu.

Malam itu berjalan dengan tenang dan damai. Pasukan Muslimin sangat keletihan begitu banyak terluka. Abu Ubaidah, pimpinan tertinggi, biasanya memerintahkan komandannya untuk melakukan pengecekan pada penjaga pos terdepan. Namun pada malam itu ia menyadari semua komandannya keletihan sehingga ia sendiri, dengan menahan rasa letihnya yang amat sangat, pergi melakukan patrol sendiri ke pasukan-pasukan penjaga pos terdepan. Inilah sebuah teladan dari seorang pemimpin yang benar-benar kepercayaan umat.

Hari Kelima

Sumber: bukitbarisan.wordpress.com
Hari Istirahat dalam Perang Yarmuk

Pada awal hari kelima, kedua pasukan membentuk formasi tempur seperti biasanya. Sebagian besar pasukan Muslimin sulit untuk berdiri tegak, bahkan ada yang sulit berdiri karena luka-luka. Kedua belah pihak membentuk barisan siap perang, namun tidak ada yang maju. Setelah lebih 2 jam berdiri, perang belum juga bergema. Tiba-tiba seseorang muncul dari tengah barisan Bizantium, utusan Mahan datang untuk menawarkan gencatan senjata dalam beberapa hari ke depan guna membicarakan kesepakatan perdamaian. Mahan berharap bisa bernegoisasi kembali dengan pasukan Muslimin.

Abu Ubaidah menerima dan menyetujui utusan itu, namun Khalid ra. menginterupsi dan menolak tawaran Bizantium dengan mengatakan;

“Kita akan menyelesaikan urusan ini segera!”

Hari itu merupakan hari istirahat dari pertempuran yang berlangsung hebat beberapa hari sebelumnya. Khalid ra. mengetahui bahwa Bizantium sudah tidak memiliki semangat bertempur lagi. Jika sebelumnya pasukan Muslimin hanya menggunakan strategi bertahan, maka kali ini Khalid ra. mengubahnya menjadi strategi ofensif sebagai serangan balasan. Ia menyiapkan pasukan Muslimin untuk itu. Semua pasukan kavaleri dijadikan satu grup bersama mobile guard untuk melakukan serangan penuh. Semuanya berjumlah 8.000 ksatria tempur berkuda yang akan melakukan tekanan penuh pada hari berikutnya.

Khalid ra. merancang taktik besar. Ia akan mengerahkan kavalerinya untuk menghantam seluruh kavaleri Bizantium dan mengusirnya dari arena pertempuran. Sehingga Bizantium hanya memiliki pasukan infantri tanpa dukungan dan pertolongan kavaleri. Setelah itu ia akan menggerus pasukan infantri Bizantium dari sisi kiri dan belakang hingga tamatlah pasukan Romawi Bizantium.

Hari Keenam

Hari keenam dari perang Yarmuk fajar benderang dan jernih. Itu adalah minggu ke-empat Agustus tahun 636 M (minggu ketiga Rajab, 15 H). Kesunyian pagi hari tidak menunjukkan pertanda akan bencana yang akan terjadi berikutnya. Pasukan muslim saat itu merasa lebih segar. Harapan-harapan pada hari itu menenggelamkan semua kenangan buruk pada “Hari Hilangnya Mata”. Dihadapan mereka berbaris pasukan Romawi yang gelisah – tidak terlalu berharap namun tetap berkeinginan untuk melawan dalam diri mereka. Seiring dengan naiknya matahari di langit yang masih samar di Jabalud Druz, Gregory, komandan pasukan yang dirantai, mengendarai kudanya maju ke depan di tengah-tengah pasukan Romawi.

Duel Antara Gregory dan Abu Ubaidah

Dia datang dengan misi untuk membunuh komandan pasukan Muslimin dengan harapan hal itu akan memberikan efek menyurutkan semangat pimpinan kesatuan dan barisan kaum Muslimin. Ketika ia mendekati ke tengah-tengah pasukan Muslimin, dia berteriak menantang (untuk berduel) dan berkata: ”Tidak seorang pun kecuali Komandan bangsa Arab!”

Abu Ubaidah seketika bersiap-siap untuk menghadapinya. Khalid dan yang lainnya mencoba untuk menahannya, karena Gregory memiliki reputasi sebagai lawan tanding sangat kuat. Semuanya merasa bahwa akan lebih baik apabila Khalid yang keluar menjawab tantangan itu, namum Abu Ubaidah tidak bergeming. Ia berkata kepada Khalid:“Jika aku tidak kembali, engkau harus memimpin pasukan, sampai Khalifah memutuskan perkaranya.”

Kedua komandan berhadap-hadapan di atas punggung kudanya masing-masing, mengeluarkan pedangnya dan mulai berduel. Keduanya adalah pemain pedang yang tangguh dan memberikan penonton pertunjukkan yang mendebarkan dari permainan pedang dengan tebasan, tangkisan dan tikaman. Pasukan Romawi dan Muslim menahan nafas. Kemudian setelah berperang beberapa menit, Gregory mundur dari lawannya, membalikkan kudanya dan mulai menderapkan kudanya. Teriakan kegembiraan terdengar dari pasukan Muslimin atas apa yang terlihat sebagai kekalahan sang prajurit Romawi, namun tidak ada reaksi serupa dari Abu Ubaidah.

Dengan mata yang tetap tertuju pada prajurit Romawi yang mundur itu, ia menghela kudanya maju mengikutinya. Gregory belum beranjak beberapa ratus langkah ketika Abu Ubaidah menyusulnya. Gregory, yang sengaja mengatur langkah kudanya agar Abu Ubaidah menyusulnya, berbalik dengan cepat dan mengangkat pedangnya untuk menyerang Abu Ubaidah.

Kemundurannya dari medan pertempuran adalah tipuan untuk membuat lawannya lengah. Namun Abu Ubaidah bukanlah orang baru, dia lebih tahu mengenai permainan pedang dari yang pernah dipelajari Gregory. Orang Romawi itu mengangkat pedangnya, namun hanya sejauh itu yang dapat dilakukannya. Abu Ubaidah pun menebas batang lehernya dan pedangnya jatuh dari tangannya ketika dia rubuh ke tanah.

Akhir dari Perang Yarmuk

Sumber: bukitbarisan.wordpress.com
Akhir dari Perang Yarmuk

Ketika Abu Ubaidah memasuki barisan Muslimin kembali, Khalid mewujudkan rencana ofensifnya. Seluruh pasukan tumpah-ruah menuju barisan tentara Bizantium yang kini menggunakan strategi defensif.

Seluruh tentara kavaleri melebur dalam satu kelompok bersama mobile guard untuk melancarkan serangan penuh. Setelah itu barisan gabungan ini akan menggerus infantri Bizantium dari sisi belakang dan kiri sampai riwayat pasukan Romawi-Bizantium pun tamat.

Akhirnya, ratusan ribu pasukan digdaya Bizantium menyerah pada puluhan ribu pasukan Muslimin dengan jumlah yang jauh lebih sedikit.

Peran Kaum Perempuan dalam perang Yarmuk

Juwariah binti Abi Sufyan mendapatkan kesyahidannya di perang ini. Asma binti Yazid dan kaum muslimah lainnya pun tak mau ketinggalan ikut berkontribusi atas kemenangan perang Yarmuk. Semuanya berusaha mengerahkan segenap kekuatannya untuk mensuplai persenjataan pasukan laki-laki. Memberi minum kepada mereka, mengurus mereka yang terluka, dan mengobarkan semangat jihad mereka.  Ketika peperangan berkecamuk dengan begitu serunya, ia  berjuang sekuat tenaganya. Akan tetapi, dia tidak menemukan senjata apapun, selain tiang penyangga tendanya. Dengan bersenjatakan tiang itulah, dia menyusup ke tengah-tengah medan tempur dan menyerang musuh yang ada di kanan dan kirinya, sampai akhirnya dia berhasil membunuh sembilan orang tentara Romawi.

”Dia adalah Asma binti Yazid bin As-Sakan yang ikut terjun dalam perang Yarmuk. Pada hari itu dia berhasil membunuh sembilan orang tentara Romawi dengan menggunakan tiang tendanya. Setelah perang Yarmuk ia masih hidup dalam waktu yang cukup lama. Asma keluar dari medan pertempuran dengan luka parah sebagaimana juga banyak dialami pasukan kaum muslimin. Akan tetapi, Allah berkehendak ia tetap hidup dalam waktu yang cukup lama.Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Asma binti Yazid bin As-Sakan dan memuliakan tempatnya di sisi-Nya atas berbagai Hadits yang diriwayatkannya dan atas segala pengorbanannya.”

Ibnu Hajar

Asma` keluar dari peperangan membawa luka di punggung, tetapi Allah SWT menghendaki beliau masih hidup sampai wafat pada akhir tahun 30 Hijriyah.

Peristiwa yang tidak diduga

Terdapat kejadian yang luar biasa di tengah sengitnya pertempuran enam hari tersebut yaitu masuk islamnya salah satu pemimpin pasukan dari pihak Romawi yaitu Gregorius. Hal ini terjadi saat ia menantang Khalid untuk berduel. Dalam pertempuran dua orang itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Ia ganti mengambil pedang besar.

Ketika berancang-ancang perang lagi, Gregorius bertanya pada Khalid tentang motivasinya berperang. Dengan lantang khalid menjawab: “Motivasiku dalam berperang hanyalah Allah SWT.” Mendengar jawaban Khalid, dihadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius bersyahadat dan menyatakan diri masuk Islam. Ia kemudian bergabung dan belajar Islam sekilas serta sempat menunaikan salat dua rakaat. Gregorius lalu bertempur di samping Khalid dan  bergabung bersama pasukan kaum muslimin. Ia kemudian mati syahid di tangan bekas pasukannya sendiri.

Itsar Haru, Pengorbanan Demi Saudara Seiman

Usai peperangan, Al Harits ibn Hisyam (sebagai Paman dari Ikrimah), Ikrimah ibn Abu Jahal, dan Ayyasy ibn Abu Rabi’ah (menurut riwayat yang lainnya adalah Suhail ibn ‘Amru) tergeletak di medan Yarmuk.

Begitu ketiganya sedang lemah, letih, sangat kehausan bahkan dalam kondisi kritis, seseorang datang karena ingin memberikan air.

Menjelang pemberian air untuk al-Harits untuk diminum, ia lihat Ikrimah tengah kehausan dan tampak sangat membutuhkan lalu berkata, “Bawa air ini kepadanya!”

Air berpindah ke Ikrimah, tapi sebelum diteguk, Ayyasy memandanginya seperti ingin minum, lantas dia berkata, “Berikan ini kepadanya!”

Air beralih kepada Ayyasy, tapi sebelum sempat meminumnya, dia syahid duluan.

Maka si Pembawa-air lekas kembali kepada dua orang sebelumnya, tapi saat kembali mereka berdua juga sudah mendapatkan kesyahidannya. Mereka lebih mengutamakan sahabat ketimbang ego diri sendiri.

Saat Raja Heraklius Ucapkan Selamat Tinggal

Ketika bencana ini terdengar Heraclius di Antioch, dinyatakan dia mengucapkan selamat tinggal kepada Suriah, berkata, “Wahai tanah Suriah, kuusampaikan selamat tinggal untuk kali terakhir.” Ia pun meninggalkan Antiokia  dan menuju ke Konstantinopel. Heraclius mulai memusatkan pasukannya untuk mempertahankan Mesir.

Dampak

https://www.indonesiaberbagi.or.id/perang-yarmuk-momentum-perjuangan-menaklukkan-bumi-syam

Perang ini berakhir dengan kemenangan bagi kaum muslim Arab.

Jumlah pasukan Romawi yang terbunuh ada 120 ribuan orang, dan sebagian lainnya berhasil melarikan diri. Sementara, Kaum Muslimin kehilangan 3.000 saudara, di antara mereka ada Ikrimah bin Abu Jahal dan anaknya Amr, Salamah bin Hisyam, Amr bin Sa’id, Aban bin Sa’id dan masih banyak lagi yang lain.

Peperangan ini sebagai tanda adanya gelombang besar yang pertama dalam penaklukan di luar Arab, sehingga Islam pun memasuki Palestina, Mesopotamia, pula Suriah.

Hasilnya adalah terbukanya seluruh Suriah bagi Kaum Muslimin, perebutan kembali Damaskus dalam satu bulan, dan Yerusalem takluk tak lama sesudahnya.

Setelah Peperangan

Barisan Muslimin sukses menjatuhkan tentara Romawi pada Agustus 636 M atau Rajab 15 H.

Namun di antara kecamuk perang, surat dari utusan Abu Bakr sudah tiba dan berisi beritak wafatnya Abu Bakr serta Umar ibn Khattab yang diangkat sebagai khalifah selanjutnya.

Surat itu juga berisi pelepas-tugasan Khalid dan penunjukan Abu Ubaydah ibn Jarrah sebagai panglima dalam perang.

Alasan Umar melepas jabatan Khalid dan menjadikan Abu Ubaidah seorang Panglima Besar yang baru, karena mengkhawatirkan sikap umat Islam yang akan begitu mendewakan Khalid.

Khalid ikhlas sepenuhnya dalam ‘menggenggam’ keputusan itu, bahkan terus membantu Abu Ubaidah dalam medan tempur.

Daftar Pustaka

https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Yarmuk

https://indonesiaberbagi.or.id/perang-yarmuk-momentum-perjuangan-menaklukkan-bumi-syam

Jurnal Abu Ubaidah oleh Oleh:

Yat Rospia Brata

Rina Dwi Gustina

https://www.facebook.com/PUSAT-PERSENJATAAN-DAN-SEJARAH-MILITER-PPDSM-195843417687966/

Hilmi

Kembali ke atas