Pertempuran Changping, Pertempuran Berdarah yang menewaskan 600 ribu orang

Pertempuran Changping (長平之戰) adalah kampanye militer selama periode Negara Berperang di Tiongkok kuno. Pertempuran ini terjadi antara Negara Bagian Zhao dan Negara Bagian Qin.

Periode Negara Berperang adalah periode di Tiongkok kuno ketika Kerajaan Qin akan menyatukan Tiongkok di bawah Dinasti Qin. Lanskap politik di Tiongkok sebelum penyatuan terbagi antara tujuh negara besar, Qin, Han,Wei, Qi, Chu, dan Yan.

Peta Tiongkok pada Periode 7 Negara Berperang 260 SM
Sumber: https://www.illustratedcuriosity.com/history/history-ancient-history/biggest-battles-in-history-the-battle-of-changping/

Kondisi Politik Tujuh Negara Sebelum Peperangan

Qin menaklukkan wilayah Shu pada 316 SM, pada 293 SM pertempuran Yique antara Wei sekutu dengan Han menghasilkan kemenangan bagi Qin, Qin menyerang Chu pada Tahun 278 SM dan merebut ibu kota mereka. Namun, setelah itu Upaya Qin untuk menduduki Negara Bagian Tengah mengalami beberapa kegagalan. Zhao memperkuat posisinya dengan secara oportunistik membentuk aliansi dengan Han dengan mengorbankan Wei, Chu dan Qi. Pada 269 SM, Qin mengirim pasukannya untuk menghentikan agresi ekspansionis Zhao, tetapi pasukan Zhao mengalahkan-nya dengan telak. Bencana ini diikuti oleh guncangan di istana Qin, yang mengarah pada kebangkitan menteri yang sangat cakap Fan Sui dan memperkuat posisi sekutu politik Fan, jenderal besar Bai Qi. Di bawah Fan Sui, Raja Zhaoxiang dari Qin memusatkan pemerintahan sehingga setiap komandan dan kabupaten yang dipimpin oleh birokrat melapor langsung kepadanya. Ini melemahkan “aristokrasi baru” yang mulai muncul di Tiongkok sejak abad reformasi Dinasti Shang. Akhirnya kebijakan Fan Sui yang lebih birokratis dan efisien pun menguasai istana Qin

Latar Belakang

Qin menyerang kota Qinyang di Negara Han pada tahun 265 SM. Qin terus menyerang Han untuk menduduki kota Shangdang yang memiliki lokasi yang strategis di sebelah barat Zhao. Jika wilayah tersebut jatuh ke tangan Qin, Qin dapat melancarkan serangan ke negara Zhao. Dalam waktu empat tahun, pasukan Qin berhasil mengisolasi Shangdang dari wilayah Han lainnya dengan merebut jalan-jalan utama dan benteng-benteng di Pegunungan Taihan. Shangdang tampaknya akan segera jatuh ke tangan Qin.

Negara Han meminta bantuan dari negara Zhao. Setelah itu Raja XiaoCheng dari Zhao  (趙孝成王) menyuruh Lian Po untuk memimpin pasukan-nya yang bertugas untuk membantu mengamankan wilayah Kota Shangdang dari pasukan Qin. Pasukan Zhao pun akhirnya berhadapan dengan 550.000 pasukan Qin yang dipimpin oleh Wang He pada tahun 262 SM di Changping di sebelah selatan Shangdang.

Zhao mengalami beberapa kekalahan kecil selama konfrontasi awal dengan pasukan Qin. Setelah menilai musuh, Lian Po memutuskan satu-satunya cara untuk mengalahkan Qin adalah menunggu mereka keluar, karena Changping jauh lebih jauh dari wilayah Qin daripada Zhao sehingga akan menguntungkan bagi pasukan Qin.

Zhao membangun beberapa benteng di musim panas 260 SM dan kemudian menunggu Qin pergi. Qin berhasil menembus pertahanan satu kali tetapi tidak memiliki kekuatan atau peralatan untuk mengeksploitasinya; meskipun demikian, Qin menolak untuk pergi. Kebuntuan dua tahun pun terjadi.

Strategi Baru

Qin mengirim agen ke Zhao dan Han untuk menyebarkan tuduhan bahwa Lian Po terlalu pengecut dan tua untuk dilawan. Raja Xiaocheng dari Zhao sudah tidak puas dengan strategi Lian Po. Zhao Kuo, yang merupakan putra dari jenderal kuat Zhao yang telah gugur, Zhao She, menggantikan Lian Po . Pada saat yang sama, Qin diam-diam mengganti Wang He dengan jenderal terkenal, Bai Qi .

Menurut legenda, Zhao She yang sekarat memberi tahu istrinya agar jangan pernah membiarkan Zhao Kuo memimpin pasukan. Namun, ketika sang raja melantik Zhao Kuo sebagai Jenderal, menteri Li Xiangru dan nyonya petinggi klan Zhao gagal mempengaruhi sang raja untuk membatalkan pelantikan. Namun, mereka berdua berhasil membujuk sang raja agar tidak menghukum klan Zhao saat Zhao Kuo gagal

Berkobarnya Peperangan

https://weaponsandwarfare.com/2020/04/21/battle-of-changping-260-bc/
Kondisi saat Perang baru dimulai

Zhao Kuo mengambil alih komando 450.0000 pasukan aliansi Zhao-Han pada Juli 260 SM . Setelah itu, ia langsung mengambil sebagian dari pasukan-nya dan menyerang kamp Qin. Bai Qi menanggapi dengan strategi manuver Cannae. Kelompok pertama tentara Qin mundur ke arah benteng Qin dan menarik Zhao Kuo mengejar mereka. Kelompok kedua yang terdiri dari 25.000 kavaleri  dan 5.000 kavaleri ringan dengan bow dan crossbow tetap berada di belakang untuk membuat perangkap.

Ketika serangan aliansi Zhao-Han mencapai benteng Qin, kavaleri Qin menyergap bagian belakang Zhao Kuo sementara kavaleri ringan Qin mengepung benteng aliansi Zhao-Han. Dengan terjebaknya musuh, Bai Qi memerintahkan Qin untuk melakukan serangan balik. Pasukan Qin berhasil memecah pasukan aliansi menjadi dua dan memotong jalur logistik-nya. Zhao Kuo tidak dapat melanjutkan serangannya atau kembali ke benteng aliansi; pasukan-nya pun menggali benteng di tengah pengepungan tersebut sambil menunggu bantuan.

 Raja ZhaoXiang dari Qin menggunakan kesempatan ini untuk memobilisasi pasukan tambahan melawan Zhao dari Henei, di provinsi Henan saat ini; ia menganugerahkan satu tingkat pangkat bangsawan kepada penduduk dan memerintahkan semua pria yang berusia di atas 15 tahun ke Changping untuk memperkuat pengepungan.

Pasukan Qin mengepung Benteng Zhao Kuo  selama 46 hari. Pada bulan September, karena kehabisan makanan dan air, pasukannya yang putus asa melakukan beberapa upaya yang gagal untuk melarikan diri. Pasukan pemanah Qin pun berhasil membunuh Zhao Kuo . Mereka tidak dapat melarikan diri, mereka dikepung dan kehilangan 400 ribu orang yang mencoba untuk membebaskan diri, sisa 50 ribu tentara ditangkap dan sebagian dikubur hidup-hidup untuk menyebarkan ketakutan pada orang-orang. Dari pihak Qin kehilangan total 150.000 orang pada peperangan ini.

Pasca perang

Bai Qi memerintahkan prajurit yang ditangkap untuk dieksekusi di depan umum. Selanjutnya, 240 tentara termuda dibebaskan untuk menyebarkan teror di Zhao. Sejarawan, Sima Qian, mengklaim lebih dari 450.000 tentara Zhao tewas selama dan setelah pertempuran itu. Beberapa abad kemudian, Kaisar Xuanzong dari Dinasti Tang kemudian membangun sebuah kuil di atas koleksi beberapa sisa-sisa manusia, dan tulang terus ditemukan di situs tersebut. 

Sebelum peperangan ini, Zhao adalah salah satu Negara Berperang terkuat. Peperangan tersebut telah menyebarkan ancaman Qin secara langsung karena perang selama tiga tahun telah melelahkan secara finansial dan domestik kedua negara; di tambah lagi dengan dikubur hidup hidup-nya orang sebanyak itu. Oleh sebab itu, Zhao tidak pernah pulih dari kekalahan tersebut, yang memungkinkan Qin mendapatkan dominasi militer atas negara lain. Pada 230 SM, Qin menggunakan dominasi ini untuk menyatukan Tiongkok .

Daftar Pustaka

https://historycollection.com/ancient-idiots-5-blundering-ancient-world-commanders/
https://www.illustratedcuriosity.com/history/history-ancient-history/biggest-battles-in-history-the-battle-of-changping/
https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Changping
http://www.szdaily.com/content/2020-04/30/content_23110213.htm
https://weaponsandwarfare.com/2020/04/21/battle-of-changping-260-bc/
https://books.google.com.sg/books?id=cHA7Ey0-pbEC&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false
https://www.facebook.com/1410310145714767/posts/the-battle-of-changpingjuly-260-bc-april-262-bcin-a-time-period-called-the-warri/1412643115481470/

Hilmi

Kembali ke atas