Sejarah Catatan Perayaan Kelahiran Maulid Nabi Muhammad saw

Ajaran Islam sebagai ajaran yang bersifat universal dan kosmopolit, senantiasa terbuka terhadap pemikiran atau tradisi yang berbeda dari ajaran Islam itu sendiri, bahkan mengapresiasinya dengan berupa mengadopsi tradisi tersebut. Kenyataannya dalam sejarah menyebutkan pada masa awal Islam, Nabi Muhammad saw pada saat berkhutbah dinaungi pelepah kurma. Kemudian, seiring berjalan waktu, bertambah banyak orang arab pada masa itu masuk Islam, karena para umat Islam pada masa itu tidak bisa melihat Nabi Muhammad saw secara jauh, dipanggillah seorang tukang kayu Romawi. Ia membuatkan untuk Nabi sebuah mimbar dengan tiga tingkatan yang dipergunakan untuk khotbah Jum’at dan munasabah-munasabah lainnya sehingga umat Islam pada masa itu bisa melihat Nabi Muhammad saw secara jelas meski dari kejauhan. Dengan kata lain, tradisi baru itu tidak dipermasalahkan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Namun ada yang menarik dalam ajaran Islam terhadap adanya suatu tradisi yang dianggap baru dan ini berlangsung hingga kini, yakni adanya perayaan kelahiran Nabi Muhammad saw atau lazimnya disebut Maulid Nabi. Terjadinya pro kontra terhadap Maulid Nabi, menimbulkan pertanyaan, bagaimana sejarah adanya perayaan Maulid Nabi?

Sejarah Perayaan Maulid Nabi

Kelahiran Sang Kekasih Allah swt

Perlu diketahui, untuk mengetahui sejarah adanya perayaan Maulid Nabi, terlebih dahulu mengetahui kata Maulid secara bahasa, kata Maulid berasal dari bahasa arab walada-yalidu-wiladan yang berarti kelahiran. Hal ini biasa dihubungkan dengan kelahiran Nabi dari Umat Islam. Disisi lain, secara sosiologis-hostoris, kelahiran Nabi Muhammad saw tidak diketahui tentunya. Faktanya, pada saat ini beberapa sejarawan berpendapat kelahiran Nabi Muhammad lahir pada tanggal 9 Rabi’ul Awal bukan 12 Rabi’ul Awal. Ada beberapa penelitian yang dilakukan oleh beberapa sarjana, baik sarjana Muslim maupun sarjana sekuler, penelitian tentang sejarah awal mula perayaan Maulid Nabi belum terekam dalam sejarah Islam secara serius. Bahkan ada yang menganggap perayaan Maulid Nabi ini adalah sebuah inovasi yang pada saat itu dianggap hal yang baru (bid’ah), dan sejarahnya dapat ditelusuri kembali beberapa abad setelah kelahiran nabi. Dengan alasan, perayaan Maulid Nabi tidak perlu dirayakan, cukup melakukan penghormatan dan pengingatan kebesaran dan keteladanan Nabi Muhammad saw.

Namun ada beberapa catatan penelitian yang berhasil merangkum tentang sejarah perayaan Maulid Nabi, Pertama, sejarawan seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn Al-Jauzi, Ibn Katsir, Al-Hafizh Al-Sakhawi, Al-Hafizh al-Suyuthi menyatakan adanya perayaan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil pada saati ini berada wilayah Irak, bernama Muzhaffaruddin Abu Said al-Kukbiri pada tahun 630 H yang mengadakan perayaan Maulid Nabi secara besar-besaran.. Sibth ibnu al-Jauzi menjabarkan bahwa dalam perayaan yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik fikih, hadis, kalam, usul, tasawuf, dan lainnya

Sultan Al-Muzhaffar pada masa itu memikirkan nasib negerinya supaya bisa selamat dari kekejaman Temujin atau yang dikenal dengan nama Jengiz Khan (1167-1227 M.) dari Mongol. Jengiz Khan, seorang raja Mongol yang naik tahta ketika berusia 13 tahun dan mampu mengadakan konfederasi tokoh-tokoh agama, berambisi menguasai dunia. Untuk menghadapi ancaman Jengiz Khan itu Sultan Al-Muzhaffar mengadakan perayaan MaulidNabi selama 7 hari 7 malam. Dalam acara Maulid itu ada 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju dan 30.000 piring makanan dengan menghabiskan biaya 300.000 dinar uang emas. Kemudian, dalam acara itu Sultan Al-Muzhaffar mengundang para orator untuk menghidupkan kepahalwanan Nabi Muhammad dihadapan kaum Muslimin pada peraayan tersebut. Hasilnya, semangat kaum  Muslimin yang saat itu mengikuti perayaan menjadi berkobar dan siap menghadapi Jengiz Khan. Pada saat itu juga para ulama yang hadir dalam perayaan tersebut menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar.

Temujin atau dunia mengenalnya sebagai Jengiz Khan

Kedua, tradisi Maulid pertama kali diadakan oleh khalifah Mu’iz li Dinillah, salah seorang khalifah dinasti Fathimiyyah di Mesir yang hidup pada tahun 341 H. Seperti yang tercatat dalam buku Kaptein dalam bukunya Materials for the history of the Prophet Muhammad’s birthday celebrationin Mecca pada masa dinasti Fatimiyyah banyak perayaan yang dilakukan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, Maulid (hari kelahiran) Nabi, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Hasan dan Husain, Maulid Fatimah az-Zahra, Maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Sya’ban, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al-Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.

Asy Syaikh Bakhit Al Muti’i, seorang mufti negeri Mesir mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan Maulid  yang pada masa itu dianggap sakral yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid ‘Ali, Maulid Fatimah, Maulid Al Hasan, mauled Al Husain radhiyallahu ‘anhum dan Maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H. Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’  dan ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). Kemudian, perayaan Maulid dilarang oleh Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy dan kembali marak pada masa Amir li Ahkamillah tahun 524 H. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Al-Sakhawi (wafat 902 H).

Potret Dinasti Fatimiyyah

Ketiga, sejarawan lain mengatakan bahwa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi. ide adanya perayaan Maulid Nabid bukan gagasan murni Salahuddin, melainkan usul dari iparnya, Muzaffaruddin Gekburi atau yang lebih dikenal dengan Muzhaffaruddin Abu Said al-Kukbiri, yang menjadi atabeg (seperti posisi bupati) di Irbil. Untuk mengimbangi maraknya peringatan Natal oleh umat Nasrani, Muzaffaruddin di istananya sering menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi, hanya saja perayaannya dilakukan bersifat lokal dan tidak setiap tahun. Maka menurut Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka. Dia mengimbau kepada  umat Islam pada saat itu di seluruh dunia agar mengingat hari kelahiran Nabi dan Rasul umat Islam, Nabi Muhammad saw ditetapkan pada tanggal 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara massal.

Rivalitas Dalam Perang Salib yang terkenal. Richard The Lion Heart (Kiri) dan Salahuddin Al-Ayyubi atau Saladin (Kanan)

Tujuannya ialah untuk membangkitkan semangat umat Islam yang telah padam untuk kembali berjihad dalam membela islam pada masa Perang Salib. Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 Hijriah) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far al-Barzanji. Ternyata peringatan Maulid nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriah) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjid al-Aqsa menjadi masjid kembali sampai hari ini.

Ave Neohistorian!

Daftar Pustaka

Ahmad, Suriadi. Akulturasi Budaya Dalam Tradisi Maulid Nabi Muhammad Di Nusantara. Jurnal Khazanah, Vol. 17. No. 1, 2019.

As-Sayuthi, Abd. Ar-Rahman, Husnu Al-Maqsub:Fi Amali Al-Maulid ( Beirut: Darul kutub Al-ilmiyah,) 1985.

Kaptein, Nico. The Berdiri Mawlid Issue Among Indonesian Muslims In The Period From Circa 1875 To 1930 Leiden:  Jurnal Kitlv. Vol. 149 No. 1.1993.

_____________, Materials for the history of the Prophet Muhammad’s birthday celebration in Mecca, Der Islam. Vol. 69, 1992,

Katz, Marion Holmes. The Birth of the Prophet Muhammad Devotional piety in Sunni Islam. (New York: Routledge), 2007.

Yunus, Moch.. Peringatan Maulid Nabi (Tinjauan Sejarah Dan Tradisinya Di Indonesia). Jurnal Humanistika, Vol. 5, No.2, Juni 2019

Tjahyo Adji Prakoso

Hanya Manusia Biasa yang Punya Prinsip seperti ini... No Need To Explain Yourself To Anyone. Because Those Who Like You Don't Need It. And Those Who Hate You Won't Believe. -Ali Bin Abi Talib-

Kembali ke atas