Sejarah lokal, cerita kecil yang membangun sejarah dunia

Siapa yang tidak kenal dengan cerita Putri salju, Cinderella, sleeping beauty, Aladin, maupun kisah-kisah yang sering kita lihat di film Disney? Jika kawan tidak tahu cerita diatas, wah sungguh terlalu kalau mengutip pernyataan dari bang Haji Rhoma. Mungkin masa kecil kawan kurang bahagia.


Cerita yang sering diangkat oleh film Disney, rata-rata adalah cerita rakyat yang dimodifikasi sesuai dengan perkembangan zaman. Pada umumnya cerita ini berasal dari kisah yang terinspirasi dari kejadian nyata atau peristiwa menarik yang disampaikan dengan bahasa kiasan agar menarik audiens.


Lalu apakah ini termasuk sejarah, memang butuh kajian lebih lanjut mengenai cara memisahkan fakta dan fiksi dalam sebuah kita. Tetapi yang jelas ada keterkaitan antara lokasi dan kondisi masyarakat kala itu. Misal saja Aladin yang mengambil latar Arabia, putri salju di kawasan Eropa dan sebagainya yang aslinya berasal dari sejarah lokal.


Mungkin sebagian dari kita akan berpikir bahwa sejarah lokal adalah sejarah yang berasal dari lingkungan kita sendiri. Secara bahasa memang itu benar namun ada penjelasan yang lebih komplit mengenai apa itu sejarah lokal. Pada dasarnya sejarah lokal terdiri dari dua unsur penting yaitu lokalitas tempat dan juga komunitas.


Lokalitas membangun pondasi cerita dan komunitas mendistribusikannya ke khalayak. Mengintip Pamela Brooks dalam tulisannya, How to research local History: find out all about your house, village or town. Sejarah lokal adalah kajian tentang orang, tempat-tempat, institusi-institusi dan komunitas di sekitar kita.


Kajian tersebut menjadi salah satu cara dalam membangun gambaran besar soal seperti apa tempat, kegiatan, dan kebiasaan yang pernah dilakukan oleh orang-orang terdahulu di lokasi yang tengah dibahas. Kira-kira bagiamana sih orang-orang dulu bekerja dan beraktivitas berdasarkan cerita yang kita dengar atau baca melalui sejarah lokal.


Intinya, sejarah lokal merupakan kilas balik kisah masa lalu suatu tempat dan masyarakatnya agar bisa dimengerti oleh orang-orang setelah mereka. Tanpa gambaran, kira-kira bagaimana kita tahu orang dahulu bekerja? Kira-kira makanan apa yang biasa dikonsumsi dan cara masaknya?


Seperti itu gambaran yang dapat kita ketahu melalui sejarah lokal. Apa yang ditampilkan dalam beberapa film animasi diatas merupakan contoh kecil dari penerapan sejarah lokal. Lalu bagaimana dengan cerita rakyat yang ada di sini?” Apakah masih termasuk dalam sejarah lokal?


Jawabannya adalah Iya, cerita rakyat termasuk dalam bagian sejarah lokal. Menurut pendapat Faye Philips di bukunya, Local History Collection In Libraries, sejarah lokal memiliki unsur sejarah sosial dalam arti tematis, sifat sejarah lokal tetap menekankan pada lokalitas geografi.


Jadi, kita tidak perlu berkecil hati mengenai sejarah lokal tidak punya pamor, justru sejarah lokal merupakan pondasi awal dari terbentuknya sejarah nasional maupun global. Sejarah nasional maupun global hanya mengambil garis besar peristiwa yang terjadi di beberapa wilayahnya, sedangkan sejarah lokal lebih spesifik dan memiliki ciri khas yang berbeda satu sama lain.


Kita perlu berbangga memiliki banyak sejarah lokal yang tersebar di penjuru negeri, namun kita juga harus sadar diri mengenai keberadaan sejarah lokal harus dipertahankan dan dirawat keberadaannya. Sejarah lokal yang ada di Indonesia kebanyakan berbentuk cerita lisan yang disampaikan turun temurun, sedangkan upaya dalam membukukannya masih belum maksimal.


Tetapi bukan berarti tidak mungkin. Menjaga sejarah lokal dapat dilakukan dengan cara yang bisa kita lakukan berdasarkan apa yang kita bisa. Bila bisa menuliskan dengan cara cerita pendek, maka kita selipkan cerita rakyat ke dalamnya. Bila bisa menggambar maka sisipkan beberapa simbol yang mewakilinya dan sebagainya.


Menjaga eksistensi sejarah lokal itu penting. Kita tidak akan tahu asal usul kita tanpa mengenal riwayat komunitas dan lingkungan kita. Selain itu sejarah lokal juga mengajarkan kita untuk tetap bangga dengan diri sendiri tetapi tetap menerima keberadaan yang lain.

Kyota Hamzah

Penikmat sejarah yang kebetulan menulis

Kembali ke atas