Shenzhen, Imitasi Hongkong di China Daratan

Shenzhen pada malam Hari (FT.com)

               Siapa disini yang tidak pernah mendengar kata Hong Kong? Tentu Saja Hampir tidak ada yang tak pernah mendengar SAR (Special Administrative Region) milih RRT tersebut. Lalu siapa disini yang PERNAH Mendengar kata Shenzhen? Hanya sedikit orang Indonesia yang mengenal Shenzhen, dimana itu, dan bahkan tak sadar peran Shenzhen bagi Indonesia.

               Kali ini penulis akan mencoba membahas secara singkat tentang Apa itu Shenzhen, dimanakah ia, Peran Pentingnya dalam Ekonomi Tiongkok serta Apa peran Kota yang Terletak diTenggara Tiongkok Tersebut.

Lokasi Geografis

Shenzhen merupakan Kota sekelas sub-provinsi. (Seperti Jabodetabek), Shenzhen masuk ke dalam Perfektur Guangdong (Guangzhou) yang  terletak di wilayah tenggara China, berbatasan dengan 2 SAR (Special Administrative Region) milik RRT secara langsung, Hong Kong dan Makau, serta menjadi buffer zone (zona pengalihan), dari 2 wilayah SAR tersebut ke China Daratan.

Shenzhen dalam Peta (google.com)

               Dapat dilihat pula dalam Gambar, Rata-rata Kota di Perfektur Guangzhou berperan sebagai Trade hub karena memiliki lokasi yang strategis. Dapat pula dilihat di peta, Shenzhen mendapat berkat sebagai Pusat dagang, dan dapat memaksimalkan Potensi yang diberikan atas statusnya sebagai SEZ (Special Economic zone) akibat lokasinya:

  1. Dekat dengan Muara Sungai Mutiara (Pearl River). Pearl River ialah Sungai yang menjadi pintu masuk kapal dagang Luar Negeri. 60% arus Impor Ekspor Tiongkok, dilakukan melalui sungai ini.
  2. Memiliki Garis Pantai yang langsung berhadapan dengan Laut Cina Selatan
  3. Berbatasan Langsung dengan Hong Kong, sebagai salah satu Trade Hub terbesar di Asia

Sejarah Awal

Shenzhen sebenarnya merupakan Kota yang masih cukup “Muda” di wilayahnya. Shenzhen awalnya merupakan desa nelayan yang masuk ke daerah Bao’an dan secara administrative berada di dalam Bao’an, Perfektur/Provinsi Guangdong (Guangzhou)

Shenzhen sebelum menjadi Kota Megapolitan sekaligus salah satu Trade Hub Terbesar di Asia (Business Insider)

Pada tahun 1950-an pasca kemenangan Partai Komunis China dibawah Mao Zedong,banyak sekali kaum kapitalis China yang kabur meninggalkan negaranya, banyak dari mereka kabur ke Formosa (Taiwan), bergabung dengan pemerintahan Baru Chiang Kai Shek disana, sedangkan Sebagian besar lainnya kabur ke Hong Kong dan Makau, dengan Presentase terbesar berada di Hong Kong.

               Pada tahun 1970, Pemerintah Daerah Bao’an, memindahkan ibukota administratifnya ke Shenzhen, menjadikannya distrik terbesar dan paling berpengaruh di Wilayah tersebut. Dan Pada tahun-tahun ini, populasi pengungsi “Orang Terbuang” (Kapitalis China yang gagal melarikan diri ke Hongkong) mencapai puncaknya, sekitar 100.000 sampai 560.000 orang.

Potret Perbatasan Hong Kong (Saat itu masih menjadi wilayah Inggris) dengan China Daratan, Ramai Pengungsi sebagai dampak Deklarasi RRT oleh Mao Zedong (Researchgate.com)

Pada Januari 1978, beberapa tim peninjau yang dikirim Peking, meninjau Garis Pantai di Shenzhen, yang menghadap langsung ke Laut Cina Selatan, untuk menghitung Potensi Pelabuhan Dagang Asing apabila dibangun disana.

               Januari 1979, merupakan waktu yang Vital untuk Kota ini, Guangzhou menawarkan Proposal untuk mengganti nama Bao’an menjadi Shenzhen dan diterima, ditahun yang sama, Pemerintah Peking menyetujui Pendirian Kawasan Industri Shekou, yang ditawarkan dan dibangun oleh Perusahaan Pimpinan Yuan Geng (Pahlawan Perang yang banting stir jadi Pengusaha) yang berbasis di Hong Kong.

Yuan Geng, mantan mata mata serta pahlawan perang China, yang menjadi orang dibalik pengembangan Shenzhen (CMHK.com)

Pada Tahun yang sama pula, Guangzhou menawarkan proposal terhadap Pemerintahan Pusat di Beijing, tentang pengadaan SEZ (Special Economic Zone) untuk kota kota di dalam wilayahnya, salah satunya ialah Shenzhen.

               Pada tahun 1980, Komite Komunis Pusat menyetujui dan mendesain Shenzhen sebagai salah satu Kota penyandang status SEZ tersebut, berkat Revolusi kebudayaan yang dipimpin oleh Deng Xiaoping dan De-Maoisasi, menjadikan banyak kota di China pada periode tersebut mendapatkan hak istimewa dalam Ekonomi, khususnya bea, pengadaan modal asing, serta pajak.

Deng Xiaoping (wikimedia.com)

               Shenzhen menjadi salah satu kota yang paling menarik investor asing, menyaingi Hong Kong saat itu. (Saat itu Hongkong masih menjadi Wilayah Inggris). Shenzhen dapat menarik investor asing akibat lokasi geografis yang ditawarkan, serta kemudahan dalam melakukan bisnis, berkat status SEZ nya tersebut.

1980- sekarang (setelah mendapat status SEZ)

Shenzhen secara Resmi menjadi SEZ. Pada 1981, Shenzhen mendapat julukan sebagai “Sillicon Valleynya China” Karena banyak sekali perusahaan Teknologi China pada masa itu (bahkan sampai sekarang). Shenzhen terus menarik investor asing dari waktu ke waktu, dan secara bersamaan menarik Migran China (Utamanya kaum Kapitalis masa sebelum Mao mendeklarasikan RRT). Migran China kini lebih tertarik hidup dan menetap di Shenzhen daripada melintasi Hong Kong secara illegal.

Pada Tahun 1990, Bursa Saham Shenzhen dibuka, menjadikannya salah satu Bursa Saham Terbesar di China, setelah Bursa Saham Shanghai. Tahun 2000-an, meningkatnya perusahaan swasta yang berbasis di Shenzhen, terutama bidang logistik dan juga Teknologi. Tahun 2015,Kawasan Industri Shukou semakin berkembang Pesat setelah diintegrasikan dengan Kawasan Perdagangan Bebas Guangzhou

Shenzhen di tahun 1990-an, masih terdapat area pedesaan (randomwire.com)

Keuntungan Shenzhen bagi China dan Dunia

Keuntungan Shenzhen bagi China sendiri, pada masa 1980-an sebagai perangsang tumbuhnya berbagai perusahaan swasta yang berada di China, sedangkan pada masa 2000-an Shenzhen menjadi Rumah sedikitnya 10 Perusahaan Teknologi Besar Dunia, seperti ZTE, Huawei, dan juga Tencent. Menjadikan Shenzhen sebagai salah satu Pusat Teknologi terbesar di DUnia setelah Silicon Valley. Shenzhen juga menjadi Kota dengan Bilioner terbanyak ke 5 di dunia, dilansir dari Hurun Global Rich List 2020.

Sedangkan secara Global, Shenzhen berperan sebagai salah satu Trade Hub terbesar di Asia pada saat ini, serta menjadi keran Impor barang Murah, seperti yang terjadi di Indonesia, banyak dari barang “Made in China” diimpor dari Shenzhen, agar harganya dapat ditekan dan menjadi komoditas murah di I donesia. Shenzhen juga berperan sebagai Pusat perdagangan Asia Pasifik, dan juga ASEAN di Kawasan Peral River Delta. Shenzhen juga menjadi pusat perbelanjaan di China karena banyaknya barang yang ditawarkan, serta Harganya yang murah

Pelabuhan Shenzhen merupakan Pelabuhan Tersibuk ketiga, berperan sebagai keran Ekonomi Ekspor-Impor China, dengan komoditas utama Barang Murah “Made in China” ke Negara dunia ketiga, salah satunya Indonesia (newsecuritybeat.org)

Farrel Maja Mahardika

Kembali ke atas